Bahasa Melajoe

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 18 Jan 2016

Pada 1920-an, buku-buku mengenai bahasa dan sastra sering menggunakan sebutan Melajoe. Buku digunakan dalam pelajaran di sekolah atau bacaan umum. Buku-buku itu agak memicu penasaran mengenai keseringan sebutan Melajoe ketimbang Indonesia. Para tokoh politik kebangsaan, sastrawan, dan wartawan mulai berikhtiar mengenalkan Indonesia sebagai gagasan dan imajinasi. Ikhtiar serius belum memberi pengaruh besar dalam penentuan kurikulum pendidikan kolonial atau penerbitan buku. Sebutan bahasa Indonesia memang ada dalam Sumpah Pemuda (1928) meski tak gampang menular ke penerbitan buku atau penentuan pelajaran di sekolah. Continue reading “Bahasa Melajoe”

Bahasa Indonesia sebagai Cermin?

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 20 Feb 2012

Suatu hari pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, kami berdiskusi tentang penerjemahan. Saya memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk memahami dan menerjemahkan teks berita di sebuah harian Indonesia yang bukan saja mengandung kesalahan tata bahasa, tapi ditulis demikian kacau alias mengabaikan logika kalimat. Setelah 10 menit, para mahasiswa begitu putus asa dan menyatakan mogok. Continue reading “Bahasa Indonesia sebagai Cermin?”

KONSEPSI SASTRA DAN GERAKAN LITERASI KITA

Raudal Tanjung Banua

Karya sastra memiliki peluang menjadi rujukan peristiwa sosial melalui penggalan atau kutipan yang dianggap konseptual. Bukan hanya judul, juga bagian isi yang “enak dikutip” menyerupai kata mutiara, metafor, kiasan, dan narasi-narasi inspiratif. Lebih dari itu, muatan karya secara keseluruhan sangat menentukan “keabadian”-nya di tengah publik. Tentu saja karya yang kuat secara estetik jadi garansi dalam ­proses dialektika semacam ini. Bahkan tak jarang konsepsi estetis pengarang mampu mewakili semangat orang banyak. Semua itu mengental jadi konsepsi bersama, berupa kebijakan (wisdom) dan semangat zaman (zetgezet). Continue reading “KONSEPSI SASTRA DAN GERAKAN LITERASI KITA”

Kesatuan

Agus R. Sarjono *
Majalah Tempo, 11 Jul 2011

“Wahai pemuda Indonesia, jika Tunku Abdul Rahman bertanya kepadamu, ‘Berapa jumlah pemuda Indonesia?’, jawablah: ‘Satu!’” Demikian gelegar pidato Bung Karno saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia. Jawaban “satu!” yang diberikan Bung Karno tentu bukan karena beliau malas menghitung berapa persisnya jumlah pemuda Indonesia saat itu. Juga bukan berarti Bung Karno kalah soal berhitung dibanding Rhoma Irama hanya karena Bang Haji melantunkan “Seratus tiga puluh lima juta/Penduduk Indonesia….” Continue reading “Kesatuan”

Bahasa »