Tesaurus Kehidupan

Eka Budianta *
Kompas, 28 Mei 2016

Kata benda apa yang paling anda sukai kalau nanti berumur 100 tahun? Herawati Diah yang baru merayakan ulang tahun ke-99 berbisik kepada saya, ”Art.” Baginya tidak ada kata benda yang lebih penting dari seni. Bukan uang, bukan rumah, bukan mobil, melainkan art. Mengapa? Tentu ada penjelasan psiko-analisisnya. Continue reading “Tesaurus Kehidupan”

Rokok dan Lain-Lain

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 10 Apr 2017

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan perubahan sikap terhadap rokok, setidaknya dalam perkara menciptakan slogan. Sebelumnya kita mengatakan rokok bisa menimbulkan penyakit jantung dan paru-paru, mengganggu kehamilan, dan sebagainya, sekarang awas-awas itu kita tarik lebih tegas lagi: MEROKOK MEMBUNUHMU, disertai gambar yang bisa saja menakutkan, jauh lebih telak dan ringkas dibanding awas-awas sebelumnya. Continue reading “Rokok dan Lain-Lain”

Madong Lubis: Lagu dan Buku

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 24 Okt 2016

TIGA tahun sebelum peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda, Madong Lubis (1890-1959) mempersembahkan lagu-lagu bocah. Lirik lagu berbahasa Indonesia. Kita menganggap sebutan bahasa Indonesia sudah berlaku sebelum 1928. Sebuah lagu mungkin bukti kecil untuk melacak geliat bahasa Indonesia. Madong Lubis memajukan bahasa Indonesia melalui lagu-lagu merdu, sebelum rajin menulis buku pelajaran bahasa Indonesia. Continue reading “Madong Lubis: Lagu dan Buku”

Setelah Menara Babel

Goenawan Mohamad *
Majalah Tempo, 10 Mar 2014

Saya pernah mendengar seorang penyair bahasa daerah membaca puisinya dengan menarik dan kocak, dan kemudian mengatakan, “Bahasa Indonesia adalah bahasa imperialis.”

Saya tak tahu adakah ironi dalam ucapannya. Tapi, kalau tidak, ia lupa bahwa tiap bahasa-juga bahasa daerahnya-punya kemungkinan mendesak bahasa lain. Yang disebut bahasa “Sunda”, misalnya, atau “Jawa”, dapat dilihat sebagai bahasa yang dikonsolidasikan, dan sebagai akibatnya meminggirkan bahasa yang tak diakui sebagai “Sunda” atau “Jawa” yang “baik dan benar”. Continue reading “Setelah Menara Babel”

Bahasa »