Kata yang Berkembang Biak

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 26 Agu 2013

DALAM urusan bahasa, masyarakat Indonesia termasuk yang paling kreatif. Di tangan orang Indonesia, satu kata bisa beranak-pinak. Meski secara fisik fonemik berbeda seratus persen dengan induknya, anak-anak kata baru tidak meninggalkan tali pertautan dengan induknya. Anak kata baru itu ada yang berasal dari serapan kata asing, dari padanan kata Indonesia sendiri, bahkan dari bahasa daerah. Continue reading “Kata yang Berkembang Biak”

Penyair Agus R. Sarjono: Rilke adalah Penyair Apolitis

Diah Anggraeni Retnaningrum
www.satuharapan.com

Rainer Maria Rilke di mata penyair Agus R Sarjono adalah sosok penyair yang berbeda. Karya-karya Rilke tidak sarat dengan muatan politis dan sosial, namun lebih kepada keindahan alam, renungan, cinta, dan kematian.

“Dia penyair liris yang sangat halus, metrum, mendalam, tapi juga berlagu dan apolitis,” kata Agus Sarjono kepada satuharapan.com saat meluncurkan kumpulan puisi terjemahan karya Rilke yang bertajuk 10 Tahun Seri Puisi Jerman, Rainer Maria Rilke: Kedalaman, Terserah Padamu, di Goethe-Institut, Jakarta Pusat, Continue reading “Penyair Agus R. Sarjono: Rilke adalah Penyair Apolitis”

Sulitnya Bahasa Indonesia

Agus R. Sarjono
Majalah Tempo, 24 Mei 2010

Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini. Continue reading “Sulitnya Bahasa Indonesia”

Kehilangan Kata-kata

Marco Kusumawijaya *
Majalah Tempo 13 Apr 2009

Yang saya maksud bukan kehabisan kata-kata, melainkan benar-benar terancam hilangnya kata-kata bahasa Indonesia. Setidaknya ada dua ancaman, ialah hilangnya realitas yang diacu oleh kata, dan hilangnya makna dalam penerjemahan yang tidak memadai—lost in translation. Semuanya berdampak pada berkurangnya ke bhinekaan. Continue reading “Kehilangan Kata-kata”

Bahasa »