Deviasi Bahasa Puisi

Muhammad Husein Heikal *
Kompas, 8 Apr 2017

Bagi penyair, ada kewenangan istimewa dalam memperlakukan bahasa yang dikenal sebagai deviasi bahasa. Dalam Buku Praktis Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2003) dijelaskan bahwa pemahaman bahasa dalam konteks media puisi tidak sama dengan pemahaman terhadap bahasa yang hidup dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa sastra berbeda dengan bahasa pidato, buku teks, atau karya ilmiah. Bahasa dalam puisi sering menyimpang dari kaidah atau ketetapan tata bahasa yang normal. Penyimpangan ini dalam linguistik disebut deviasi bahasa. Penyimpangan itu diperbolehkan demi visi puisi sang penyair kesampaian. Continue reading “Deviasi Bahasa Puisi”

Celoteh

Indra Tranggono *
Kompas, 13 Mei 2017

Celoteh atau ocehan kini mendapat istilah baru, yaitu cuitan atau kicauan (versi Twitter) dan status (versi Facebook). Celoteh atau ocehan merupakan istilah khas yang muncul dari praktik berbahasa dalam komunikasi konvensional alias tatap muka. Dalam dunia digital, komunikasi tatap muka sering disebut komunikasi luring, luar jaringan. Yakni, komunikasi langsung, nyata (lawan dari maya), dan autentik (lawan dari semu, palsu). Di sana pihak-pihak yang berkomunikasi hadir secara manusiawi, menyosok secara multidimensional, memiliki gagasan, berperasaan, berekspresi, dan beridentitas (bukan anonim). Continue reading “Celoteh”

Rusak Bahasa, Rusaklah Pemikiran

Faiz Manshur
Intisari Sep 2005

Orang sering tidak paham tentang kesaktian yang terkandung dalam bahasa. Bahasa merupakan satu perkara dengan dunia pemikiran dan cita rasa. Kalau orang itu kacau pikirannya, bahasanya juga kacau. Bahasa dan hidup, dunia pemikiran dan dunia rasa itu satu. Nah, kita bisa saksikan karena pendidikan bahasa dalam sistem pendidikan sekarang ini kurang, maka cara mereka berpikir juga kacau. Caranya menghayati, merasakan juga ikut kacau. Continue reading “Rusak Bahasa, Rusaklah Pemikiran”

Kegalauan Bahasa Indonesia

Sudaryanto *
Republika, 5 Okt 2015

Bahasa Indonesia sedang galau? Barangkali pertanyaan awal itu akan muncul di benak pembaca saat membaca judul artikel ini. Ya, bahasa Indonesia tengah mengalami kegalauan yang luar biasa. Apa pasal? Sebab, para penutur asli bahasa tersebut sedang keranjingan berbahasa Inggris ria. Buktinya, kosakata-kosakata bahasa Inggris kini banyak bertaburan di ruang publik kita. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita bisa menghapus kegalauan tersebut? Continue reading “Kegalauan Bahasa Indonesia”

Berbahasa (Cara) Pusat Bahasa

Veven Sp. Wardhana *
Majalah Tempo 30 Nov 2009

UNGKAPAN ”bahasa menunjukkan bangsa” secara telak dibuktikan lembaga Pusat Bahasa—jika makna bangsa sama maknanya dengan ”sebuah peradaban”. Peradaban sendiri tidaklah universal, namun berbeda-beda pada masing-masing bangsa, suku bangsa, bahkan komunitas. Pusat Bahasa boleh jadi merupakan bagian dari subkomunitas itu. Salah satu peradaban Pusat Bahasa tercermin saat menerbitkan 10 novel berbahasa Indonesia yang didasarkan legenda lama, yang berbahasa awal Jawa, Bali, Bugis, Jawa kuno, Batak, dan bahasa ”lokal” lainnya. Yang dijadikan acuan 10 penovel bukanlah ceritera yang berbahasa awal tadi, melainkan pada kisah yang sebelumnya sudah dibahasaindonesiakan. Continue reading “Berbahasa (Cara) Pusat Bahasa”

Bahasa »