Eusideroxylon Zwageri
mengapa harus iri
pada eusideroxylon zwageri
sedang senyum yang pernah kaugenitkan pada sufi
kian menguat oleh hujan dan terik mentari Continue reading “Samudra Puisi Amien Wangsitalaja (3)”
Eusideroxylon Zwageri
mengapa harus iri
pada eusideroxylon zwageri
sedang senyum yang pernah kaugenitkan pada sufi
kian menguat oleh hujan dan terik mentari Continue reading “Samudra Puisi Amien Wangsitalaja (3)”
Muhammad Yasir
Maria Violeta adalah seorang janda tua yang masih dan selalu tampak segar. Sepasang bola matanya berwarna cokelat-kehitaman dan selincah sepasang bola mata perempuan muda. Setiap lekuk tubuhnya hampir tidak dimakan keriput, sejengkalpun! Dalam seminggu, Maria Violeta hanya keluar rumah sebanyak tiga kali pada hari Senin, Kamis, dan Minggu untuk membuka toko vas bunga yang dia dirikan bersama mendiang suaminya – Ivan Widjaja; cucu dari seorang veteran Revolusi Surabaya 1945 – Continue reading “Maria Violeta dan Serenade Melancolique”

Foto jepretan Rahadian Bagus; ketika ‘menyelundupkan’ buku Ladang Pembantaian di Frankfurt Book Fair 2015
Erik Purnama Putra Continue reading “Belajar Sejarah Lokalisasi Dolly Hingga Menara Eiffel”
MATRA KOMPLEKSITAS PADA NERACA KEHIDUPAN ORANG KAILI
Hudan Nur *
Sulawesi Tengah khususnya Palu memiliki ragam tersendiri untuk menjaga keseimbangan alam seiring perjalanan bumi yang semakin menua. Diakui atau tidak, Palu (masih) beranjak remaja ke arah Megapolitan. Terlepas dari adat dan keseharian orang kaili, Kota Teluk Palu memiliki eksotitas yang khas dibandingkan daerah lain di Indonesia (umumnya) sebab Palu terlahir dari alam yang membentangkan pantai, lembah, dan gunung. Kecantikan Palu yang adanya mau (tidak mau) lambat laun tercemar oleh peradaban manusia yang semakin berkembang, kini Palu mulai mengenal lipstik dan beberapa jenis kosmetik luar. Kota ini terhunus kemajuan, ditambah lagi manusia yang makin egois dalam memanfaatkan alam. Continue reading “MORA’ATANA MORA’ABINANGGA”
Fatah Yasin Noor
Lembaran 11
Kita telah lama melupakan komitmen, kawan. Kita sekarang tidak konsisten dengan cita-cita. Apa yang telah banyak menyita waktu kita sehari-hari? Menangislah untuk sebuah kekalahan ini: sisa hidup yang menipis, dan daya ingat yang juga semakin melemah. Kita malu pada Goenawan Mohamad, Daoed Joesoef, dan YB Mangunwijaya. Pandangan dan nilai-nilai hidup yang bagaimana lagi yang harus kita miliki untuk bisa “bahagia”? Continue reading “Lembaran-lembaran Lepas Fatah Yasin Noor (II)”