Beragam Tafsir Sastra Islam

Afriza Hanifa
www.republika.co.id 29 Juli 2013

Kebudayaan, kesenian, dan kesusastraan Islam ialah manifestasi rasa, karsa cipta, dan karya manusia dalam mengabdi kepada Allah.
Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, Negeri 5 Menara, 99 Cahaya Langit Eropa, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan Hafalan Shalat Delisa merupakan contoh beberapa novel fiksi Islami yang beberapa waktu terakhir menjadi bestseller di Indonesia. Sebagiannya bahkan difilmkan di layar lebar. Continue reading “Beragam Tafsir Sastra Islam”

Sastrawan yang Tak Merawat Bahasa

Budi P. Hatees
riaupos.co 20 April 2014

Sastrawan bekerja dengan bahasa. Bahasa itu mereka pakai sebagai alat untuk mengekspresikan segala hal yang dirasakan dan/atau dipikirkan dalam karyanya. Begitu pula penyair, memakai bahasa untuk menulis sajak. Lantaran bahasalah, sajak tidak membuat pembaca lebih pintar atau lebih hebat, tetapi membuat pembaca lebih paham terhadap realitas yang ada. “Ukuran yang paling sesuai dengan sajak,” kata Aristoteles, “adalah performativitas: sukses-tidaknya ia menciptakan efek katarsis guna menekan nafsu-nafsu rendah.” Continue reading “Sastrawan yang Tak Merawat Bahasa”

Mengarai Kata Menyinggasana Puisi

Abdul Kadir Ibrahim
tanjungpinangpos.co.id 02/02/2014

Kata: Akulah Puisi
Sekali lagi kita ajak para pemula dan sesiapa yang sudah merasa sebagai menulis puisi, tetapi mungkin merasa belum berhasil atau mengena, tiada jalan lain kecuali membaca puisi-puisi penyair lainnya yang sudah “jadi” dan selalu membaca dan mengubah secara mendalam puisi yang ditulis sendiri. Penulisan puisi boleh berangkat dari persoalan apapun, tetapi lagi-lagi ia tidak mengangkat persoalan ke dalam puisi sebagaimana faktanya seperti penulisan berita, reportase ataupun laporan. Puisi bahasa “istimewa” seni dan indah. Continue reading “Mengarai Kata Menyinggasana Puisi”

Bingkai-Bingkai Kajian Sastra dalam Konteks Pengembangan Pengajaran Sastra (III)

Suminto A. Sayuti

Kesanggupan Guru

Dalam konstelasi pengajaran sastra, guru tetap menduduki posisinya yang utama. Akan tetapi, posisi utama itu tidak dalam artinya yang selalu berorientasi pada tindakan teacher-teaching, melainkan kapasitas dan kemampuan guru dalam mengarahkan dan memberikan dorongan kepada para siswa. Jadi, learner-learning tetap menjadi prioritas utama. Continue reading “Bingkai-Bingkai Kajian Sastra dalam Konteks Pengembangan Pengajaran Sastra (III)”

Bahasa »