TELEVISI, PEREMPUAN DAN WACANA POSFEMINISME

Yetti A. KA
harianhaluan, 16 Okt 2011

Era globalisasi memiliki relevansi dengan kebebasan berekspresi. Pada zaman ini orang-orang merayakan kediriannya dengan bermacam-macam cara. Keadaan ini ditunjang pula oleh akses informasi dan fasilitas yang tersedia, terutama di kota-kota besar. Orang-orang dengan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Situasi ini dijawab oleh hadirnya berbagai tekno­logi sebagai pendukung eu­phoria itu. Continue reading “TELEVISI, PEREMPUAN DAN WACANA POSFEMINISME”

DARI ROHANA KUDUS KE PEREMPUAN PEMENANG NOBEL PERDAMAIAN

Silfia Hanani
harianhaluan, 23 Okt 2011

Jumat, 7 Oktober 2011, Koto Gadang terasa begitu teduh, dengan terang pula nampak Gunung Singgalang dan Marapai yang sesekali batu-batuk memuntahkan lahar. Hamparan sawah sedang indah menghijau. Masyarakat bersahaja, masih seperti yang dulu. Di simpang jalan ada lapau tempat angku-angku duduk menanti datang­nya panggilan sholat Jumat dan bercerita apa saja yang layak diceritakan. Boleh jadi mereka bernostalgia, mengenang masa silam yang berbekas di benak-masing-masing, atau sedang maota kariang tentang seputar masalah bangsa dan negara ini. Boleh jadi! Continue reading “DARI ROHANA KUDUS KE PEREMPUAN PEMENANG NOBEL PERDAMAIAN”

Novel Tak Bertuan

(Expresi diantar­­­­­­­a nilai-nilai moral dan agama)

Awalludin GD Mualif

Novel sebagai bagian dari karya sastra, mempunyai bentuk dan proses penceritaanya sendiri yang terikat dalam hukum-hukumnya. Proses dan bentuk yang menghasilkan kecemasan, ketakutan serta harapan, sebab akibat, penyampaian gagasan, nilai pesan-pesan dalam frame dan dunia yang diciptakan penulisnya. Seperti Tuhan yang menciptakan semesta, sebagai latar bagi insan, demikian juga manusia (penulis) mencipta karya sastra, dimana unsur sastra menjadi latar bagi para tokoh yang digambarkan oleh penulis. Continue reading “Novel Tak Bertuan”

Bahasa »