Keren! Saya Mejeng di Majalah Sastra Hong Kong

Bayu Insani *
http://www.kompasiana.com/insani

Sore itu, Rabu, tanggal 19 Januari, ketika saya sedang memasak di dapur, saya mendapat telpon dari seorang sahabat yang cukup akrab. Dia adalah seorang lelaki berketurunan China, yang tinggal di Hong Kong. Alhamdulillah, walaupun kami berbeda suku, namun keakraban kami terjalin karena persamaan hobby, dalam dunia tulis menulis dan seni. Saya pun bukan orang seni, hanya penikmat seni. Pas kebetulan, dia adalah seorang seniman China, dari Hong Kong, tempat di mana saya tinggal saat ini, jadinya kami bisa sering bertemu dan sharing dalam dunia sastra. Continue reading “Keren! Saya Mejeng di Majalah Sastra Hong Kong”

Rakyat Sebagai Kekasih Sejati

Emha Ainun Nadjib
Kompas, 6 Jan 2009

Beberapa bulan sebelum Indonesia masuk 2009, orang saling bertanya: ”Siapa ya, sebaiknya presiden kita nanti?” Kemudian mereka menyebut sejumlah nama, membandingkannya, memperdebatkannya, atau membiarkan nama- nama itu berlalu dalam dialog yang tak selesai.

Atmosfer dialog tentang calon presiden diwarnai oleh berjenis-jenis nuansa, latar belakang ilmu dan pengetahuan, kecenderungan budaya, fanatisme golongan, pandangan kebatinan, juga berbagai wawasan yang resmi maupun serabutan. Namun, semuanya memiliki kesamaan: Continue reading “Rakyat Sebagai Kekasih Sejati”

Kawinnya Bahasa dan Pikiran

Edy A Effendi *
Media Indonesia, 05 Jan 2008

MEMPERSOALKAN sastra yang bersandar pada peristiwa-peristiwa sejarah selalu menarik untuk dibincangkan. Sastra yang bersandar pada sejarah tak ubahnya mengungkap peristiwa-peristiwa kelam dalam realitas kekinian, yang dikemas dalam dunia fiksi.

Seperti kita tahu, alur cerita-cerita fiksi yang bersandar pada persoalan sejarah yang disodorkan ke wilayah publik setidak-tidaknya ikut serta merekonstruksi peristiwa sejarah yang terjadi di ranah publik. Continue reading “Kawinnya Bahasa dan Pikiran”

Mantra Penjinak Tubuh

Miming Ismail *
Seputar Indonesia, 6 Jan 2008

TUBUH dalam paham Platonisme selalu dipandang sebagai interior, imanen, dan cenderung mengeksklusi jiwa yang sempurna.

Tubuh dibayangkan sebagai dosa (pendapat),bukan idea (kebenaran) dari realitas yang sebenarnya.Segala hasrat dan keinginan dalam tubuh seakan cenderung menutupi kebenaran jiwa. Implikasi pandangan ini melihat tubuh hanya sebagai suplemen dari jiwa yang sesungguhnya. Continue reading “Mantra Penjinak Tubuh”

Bahasa »