Menumbuhkan dan Menggodok Tulisan

Bagus Takwin *
Kompas, 06 Jan 2008

PASANGAN dari masterpiece Mortimer J Adler, How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca ini bertutur tentang menulis. “Menulis tanpa guru”. Bisakah kita lakukan?

Frasa ini adalah judul karya Peter Elbow, profesor bahasa dan Direktur Program Menulis di University of Massachusetts. Dilihat dari judul dan isi buku itu, menulis tanpa guru bisa dilakukan. Buku ini tentang menulis dan bertujuan membantu orang untuk belajar menulis. Lebih jauh lagi, untuk menulis tanpa guru. Continue reading “Menumbuhkan dan Menggodok Tulisan”

Tahun Penyadaran Seni Budaya

Rizka Halida
Media Indonesia, 8 Jan 2008

PERNAH dengar ungkapan, ‘Kita tak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangan dia’? Itulah yang kini kita, orang Indonesia, alami dalam bidang seni budaya. Kekayaan seni budaya warisan nenek moyang yang selama ini kita anggap sebagai sebuah keniscayaan tiba-tiba terancam hilang. Sesuatu yang tadinya terlupakan, kini kembali muncul dalam ingatan dan coba dipertahankan. Continue reading “Tahun Penyadaran Seni Budaya”

Seni, Riwayatmu Kini

Silvester Petara Hurit*
Pikiran Rakyat, 12 Jan 2008

PERHATIAN Pemerintah Daerah terhadap kesenian Sunda, seperti yang dikeluhkan kurator Taman Budaya Jawa Barat, Mas Nanu Muda dalam “Potret Buram Seni Sunda Kini” (“Khazanah”, 5/01/08), patut disayangkan. Anggaran kesenian yang sudah minim dipangkas dalam dua tahun terakhir. Hal ini, berdampak pada semakin turunnya jumlah pertunjukan di Taman Budaya. Belum lagi mekanisme perolehan bantuan dana yang berbelit-belit, seleksi, serta sistem kurasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan transparansi dan profesionalitasnya. Continue reading “Seni, Riwayatmu Kini”

Juri-Menjuri Seni, ‘Subyektif’ atau Bisa Obyektif?

Mudji Sutrisno *
Seputar Indonesia, 13 Jan 2008

MENGAPA juri menjuri seni sukar menarik garis tegas antara subjektif dengan objektif? Ada tiga ranah yang meletakkan ujung jawaban persoalan di atas.

Yang pertama, ranah perbedaan fungsi antara ilmu-ilmu empiris alam dengan ilmu-ilmu humaniora kebudayaan ketika ”membedah” kenyataan bernama kehidupan. Ilmu alam empiris berfungsi memberi penjelasan mengenai gejala-gejala realitas dalam hidup. Sementara ilmu humaniora budaya berfungsi memberi pemahaman. Continue reading “Juri-Menjuri Seni, ‘Subyektif’ atau Bisa Obyektif?”

Kebudayaan Nasional Versus Kebudayaan Komunitas

Agus Hernawan *
Kompas, 13 Jan 2008

KATA “Indonesia” awalnya hanya mengandung pengertian ethnological. Ia pertama kali diperkenalkan oleh GW Earl dan JR Logan, pada 1850, dalam dua artikel panjang yang dimuat di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia.

Motif dan intensi politik pada kata ini agaknya dimulai sejak Soewardi Soerjaningrat mendirikan Indonesische Persbureau di Den Haag pada tahun 1913, disusul perubahan Indische Vereniging menjadi Indonesische Verbond van Studeerenden antara tahun 1917 dan 1919. Continue reading “Kebudayaan Nasional Versus Kebudayaan Komunitas”

Bahasa »