Tidak Ada Sastra Religius

Ribut Wijoto

Ada satu konsepsi tema dalam perbincangan sastra—sebuah kerja nyaris sia-sia: religiusitas sastra. Sejak jaman Hamzah Fansuri, Balai Pustaka, tahun 1970-an, hingga sekarang; diselenggarakan diskusi atau tulisan lepas yang menekankan adanya religiusitas dalam karya sastra. Dipelopori Abdul Hadi WM, aliran sastra sufi pun muncul. Mengapa konsepsi tema religi rekat pada perbincangan sastra? Apakah kontribusinya bagi tradisi sastra? Continue reading “Tidak Ada Sastra Religius”

Tanahku, Hutanku, Kuburanku

Muhammad Ainun Nadjib
Kompas, 8 Agus 2009

Rencananya, sesudah diskusi ulang tahun ke-52 Lembaga Administrasi Nasional, 4 Agustus pagi itu, saya janji langsung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk turut mengantarkan Rendra pulang ke rumah Clara Shinta, putrinya, di Pesona Khayangan, Depok. Namun, tiba-tiba Mbah Surip dipanggil Tuhan sehingga seusai diskusi, saya dengan beberapa teman Kenduri Cinta langsung menuju rumah Mamiek Slamet di Kampung Makassar, tempat pertama jenazah beliau disemayamkan. Continue reading “Tanahku, Hutanku, Kuburanku”

Nyai Sobir

A Mustofa Bisri
Kompas, 15 April 2012

RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.

Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum. Continue reading “Nyai Sobir”

Tukang Pijat

Tita Tjindarbumi
lampungpost.com

PEREMPUAN bertubuh semampai itu memang tak seperti perempuan yang berprofesi sama dengannya. Penampilannya agak berbeda. Dilihat dari bodinya, jelas ia bukan tukang pijat biasa. Penampilannya rapi dengan dandanan yang pasti membutuhkan waktu cukup lama, Tatiek diduganya tukang pijat plus-plus.

Tubuhnya yang langsing dan beraroma menyengat itu, membuatnya sempat berpikir lain. Apa Ijah tak salah panggil? Continue reading “Tukang Pijat”

Haji Syiah

Ben Sohib
Koran Tempo, 8 April 2012

KAMPUNG Melayu Pulo tentulah bukan satu-satunya kampung di Jakarta yang dipenuhi haji dan pemabuk sekaligus. Tapi sangat mungkin hanya di sinilah dua pemuda mabuk dan seorang haji bisa duduk di balai-balai yang sama dalam sebuah majelis taklim. Sesungguhnya kata ini tak tepat menggambarkan kegiatan yang sebenarnya. Continue reading “Haji Syiah”

Bahasa »