Wajah Itu Membayang di Piring Bubur

Indra Tranggono
Kompas, 8 April 2012

SELALU setiap hari, Sumbi menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Bubur itu ia buat sendiri, dari beras terbaik—rojo lele—yang dicampur santan kelapa kental, sedikit garam dan ditaburi gerusan gula jawa. Setiap menyajikan bubur itu, mulut Sumbi selalu mengucap doa untuk keselamatan Murwad yang hingga kini belum pulang. Continue reading “Wajah Itu Membayang di Piring Bubur”

Perempuan dan Kuasa Kecantikan

Muslim Basyar *
http://www.lampungpost.com/

“Perempuan cantik akan luntur kecantikannya manakala ia membuka mulutnya dan ketahuan otaknya tolol!” (Mira Sato, Manusia Kamar, dalam Riwayat Negeri yang Haru; Cerpen Kompas Terpilih 1981-1990, Kompas, 2006)

PEREMPUAN dan kecantikan bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Bahkan lebih dari itu, cantik telah menjadi kemutlakan untuk memberi makna pada sosok perempuan ketimbang kecerdasannya. Continue reading “Perempuan dan Kuasa Kecantikan”

Sajak-Sajak Usman Arrumy

GUA HIRA

demi rongga yang tercipta sebagai gua
yang hadir dari sejarah tua
mengisyaratkan ketakberhinggaan
dalam ruang riung yang tak raib oleh riap kekhusukan
juga waktu yang tak henti tersedu karena wahyu

gunung, yang kepadanya bersemayam kegundahan
menciptakan tempat senyap dalam berkholwat
menjadi dermaga saat mula wahyu diterima Continue reading “Sajak-Sajak Usman Arrumy”

Tentang Seniman Kaya

Mathori A Elwa
http://teraspolitik.com/

Pada tulisan saya sebelumnya, “Tentang Seniman Miskin”, Kamis (8/3/2012), saya menjelaskan duduk perkara hubungan antara seniman dengan kekayaan (material) atau sebutlah itu penghasilan uang.

Ada yang sepakat, ada yang tidak. Hal itu sudah saya sadari dan saya pahami sebelumnya. Bagi saya yang terpenting adalah menyampaikan pendapat itu secara obyektif. Adapun jika ada yang tersinggung, saya sekali lagi, maaf lahir-batin. Continue reading “Tentang Seniman Kaya”

Pencerahan Estetik Sastra Internet

Ribut Wijoto

Apakah arti media bagi sastra. Sepintas lalu, media bukan penentu signifikan. Nur St. Iskandar menyebutkan, pendirian Balai Pustaka atau Volkslektuur (1908) yang menghadirkan majalah kebudayaan dengan rubrik sastra memunculkan tradisi sastra modern di tanah air. Majalah Pujangga Baru diterbitkan, sastra Indonesia pun memasuki estetika yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Dua tulisan Armin Pane, berjudul “Kesusastraan Baru” (1933), merupakan pembuktian otentik. Continue reading “Pencerahan Estetik Sastra Internet”

Bahasa »