Parodi: Rekreasi dan Kreasi Puisi

Ribut Wijoto

Parodi di dalam masyarakat dipahami sebagai lelucon. Kesalahan-kesalahan tersengaja yang dimaksudkan agar orang lain tertawa. Misalnya dalam “Ketoprak Humor” Srimulat yang disiarkan stasiun televisi RCTI, tokoh Timbul mengartikan “rumah sakit” sebagai “rumah yang sakit”, padahal arti sebenarnya adalah “rumah tempat menyembuhkan orang sakit”. Atau “orang warung” diartikan sebagai “orang ber-wajah murung”. Maka penonton pun tertawa riuh, terbahak-bahak. Continue reading “Parodi: Rekreasi dan Kreasi Puisi”

Kang Maksum

A. Mustofa Bisri
Jawa Pos, 15 Jan 2012

Masya Allah! Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun!

Tidak mungkin, tidak mungkin! Kang Maksum? Ah….

BERITA itu cepat beredar. Berita yang benar-benar mengguncang kotaku. Di mana-mana—di pasar, di warung-warung, di perkantoran, di sekolah-sekolah—berita itu mendominasi pembicaraan. Seperti biasa, orang-orang pun asyik menduga-duga dan menganalisis. Continue reading “Kang Maksum”

Kebohongan Ustad Baihaqi

Hasan Al Banna
Jawa Pos, 4 Maret 2012

SETIBA di rumah, air muka Baihaqi keruh. Apa pasal? Apalagi, kalau bukan karena aduan istrinya perihal kedatangan tamu lepas asar tadi. Lama Baihaqi terpaku. Dia mengais janggutnya dengan jemari, seolah hendak melacak jawaban. Namun, dia tetap tak kuasa membebaskan diri dari sandera pertanyaan: mengapa Ujang Pelor bertamu ke rumahnya? Continue reading “Kebohongan Ustad Baihaqi”

Bhartrihari

Hasif Amini
Kompas, 16 Juli 2006

Puisi lirik dari khazanah sastra Sanskerta seakan tersembunyi. Epik Ramayana gubahan Valmiki dan Mahabharata susunan Vyasa adalah sepasang karya tinggi besar dengan bayang-bayang demikian panjang, sehingga orang bisa lupa bahwa telah mengalun dan merebak juga banyak nyanyian di sekitar bayang-bayang itu. Continue reading “Bhartrihari”

Membaca dan Selimut

Emha Ainun Nadjib
http://sudisman.blogspot.com/

Kiai Sudrun berkata kepada cucunya, seorang sarjana yang tadi siang diwisuda.

“Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama Kebudayaan Barat.
Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dari anjing kurap. Continue reading “Membaca dan Selimut”

Bahasa »