Kedaulatan Rakyat, 20 Des 2009
RINDU MEREBUS SEMBAHYANG
1
laut lengang
karang diam
ombak hentikan buih-buihnya bercumbu di tepian
nun, perahu bersayap zikir, tafakur
menghikmati ikan-ikan pulang. Continue reading “Puisi-Puisi Syaifuddin Gani”
Kedaulatan Rakyat, 20 Des 2009
RINDU MEREBUS SEMBAHYANG
1
laut lengang
karang diam
ombak hentikan buih-buihnya bercumbu di tepian
nun, perahu bersayap zikir, tafakur
menghikmati ikan-ikan pulang. Continue reading “Puisi-Puisi Syaifuddin Gani”
Emha Ainun Nadjib
http://sudisman.blogspot.com/
Saridin bukan tidak sadar dan bukan tanpa perhitungan kenapa dia memilih nyantri ke pondoknya Sunan Kudus. Saridin itu tipe seorang murid yang cerdas dan mengerti apa yang dilakukannya.
Harap dimengerti murid itu bukan padanan kata dari siswa atau student, sebagaimana manusia zaman modern memaknainya secara tolol. Memang manusia dalam kebudayaan dan peradaban modern kerjanya selalu melawak. Mereka lucu, dan bahkan sangat lucu karena mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka lucu. Continue reading “DEMOKRASI TOLOL VERSI SARIDIN”
Judul: Puisi dan Bulu Kuduk (perihal sastra dan budaya)
Penulis: Acep Zamzam Noor
Editor/Penyunting: Mathori A Elwa/Faiz Manshur
Pengantar: Jakob Sumardjo
Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung, Juli 2011 Harga: Rp 48.000
Peresensi: Arifin Hakim
http://oase.kompas.com/
Buku ini merupakan kumpulan esai-esai sastra, bahasa dan budaya yang ditulis oleh seorang penyair kenamaan dari Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor. Continue reading “Indonesia: dari Paha Hingga Agama”
Mathori A Elwa
teraspolitik.com
Menjadi seniman itu miskin? Benar bahwa miskin atau kaya itu relatif. Tetapi tak usah dipungkiri karena sebenarnya klaim miskin tersebut merujuk pada kenyataan fenomenal yang general dan kemudian membentuk citra terhadap profesi seniman. Karena sudah terlanjur menjadi citra yang menahun bahkan turun-temurun, maka citra tersebut menjadi realitas; dan itu tak perlu dirisaukan. Continue reading “Tentang Seniman Miskin”
Asarpin *
Kita adalah manusia-manusia yang belum selesai.
–Carlos Fuentes.
Secarik kalimat Carlos Fuentes itu menyempil dalam esainya yang telah diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Rizadini dan diterbitkan jurnal Prosa No. 2/2002, dalam sutu paragrap yang menyinggung Octavio Paz….”Kepiatuan masa hidup kita dilihat dalam puisi dan pemikiran Paz sebagai suatu tantangan yang mesti diatasi lewat perubahan terus-menerus dalam pengetahuan manusia, dari semua pengetahuan manusia. Continue reading “Manusia dan Dunia”