Al-Amin, Khalifah Dua Daulah

Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/

Ketika berhasil mematahkan perlawanan Kaisar Nicephorus dari Imperium Byzantium di wilayah Asia Kecil, Khalifah Harun Ar-Rasyid kembali ke wilayah Bagian Timur.

Di sana terjadi pergolakan yang dipimpin Rafi’ bin Al-Laits bin Nashar. Mereka sudah berhasil menduduki Samarkand dan kota-kota sekitarnya. Ketika memasuki kota Thus yang terletak antara kota Nishapur dan Merv, Khalifah Harun Ar-Rasyid jatuh sakit. Beberapa saat kemudian ia meninggal dunia. Continue reading “Al-Amin, Khalifah Dua Daulah”

Fenomena Komunitas Sastra: Dari Pengunjung Stasiun Senen sampai “Warung” Bulungan

Sihar Ramses Simatupang
__Sinar Harapan, 28 Feb 2009

Di areal lapangan yang menghubungkan antara Stasiun Senen dan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di tengah penumpang kereta api yang ingin pulang dan pergi, di antara pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis kota Jakarta, diskusi bertajuk “Sepilihan Puisi Penyair” karya Giyanto Subagio-Kongkow Sastra Planet Senen-Labo Sastra” ini pun digelar. Tepatnya di Plaza Depan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, Jalan Stasiun Senen Nomor 1, Senin (23/2). Pembicaranya penyair Dharmadi dan sastrawan juga pengamat budaya Mustafa Ismail. Continue reading “Fenomena Komunitas Sastra: Dari Pengunjung Stasiun Senen sampai “Warung” Bulungan”

Esensi Puisi Pagar Kenyataan

Khrisna Pabichara
Jurnal Bogor,06/09/2009, Harian Fajar 27/09/2009

KAMI tahu kami makhluk yang kekal. Kami hanya lupa di mana menaruh kunci pagar. Demikian pernyataan TS Pinang—sebagai manusia dengan segala kemanusiaannya—dalam sajak Kekal (h. 51).

Jika Chairil Anwar menyebut dirinya sebagai “binatang jalang” yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka TS Pinang menisbahkan diri sebagai makhluk kekal. Hanya saja, kekekalan itu terhambat oleh dua hal, kunci dan pagar. Continue reading “Esensi Puisi Pagar Kenyataan”

Bahasa »