Identitas dan Etnisitas (Melayu)

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 22 Jan 2012

PERBINCANGAN, bahkan perbalahan, mengenai (ke)melayu(an) belakangan ini marak kembali. Di harian ini, misalnya, setidaknya telah dimuat empat tulisan: 2 tulisan Marhalim Zaini (Riau Pos, 13 November 2011 serta 8 dan 15 Januari 2012), 1 tulisan Syaukani Al-Karim (Riau Pos, 20 November 2011), dan 1 tulisan Alvi Puspita (Riau Pos, 25 Desember 2011) yang meramaikan perbincangan itu. Esensi keempat tulisan itu adalah mempertanyakan apakah identitas etnis Melayu (kemelayuan) itu sudah pasti: bersifat tetap, tertutup, dan tak tergantikan atau sebaliknya, tidak pasti: bersifat berubah, terbuka, dan tergantikan (mengada). Continue reading “Identitas dan Etnisitas (Melayu)”

Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (1)

Arie F. Batubara
http://www.suarakarya-online.com/

SEBAGAI Kota Metropolitan yang menyandang predikat Ibukota Negara, Jakarta adalah sebuah “pusat” bukan hanya untuk aktivitas politik, pemerintahan, serta ekonomi; tapi juga untuk hampir seluruh aktivitas kehidupan di negeri ini, termasuk di dalamnya kesenian. Bahkan, dalam konteks sebagai “pusat” aktivitas kesenian tersebut, saat Jakarta berada di bawah kepemimpinan Ali Sadikin sebagai Gubernur, dalam Rencana Induk 20 Tahun DKI Jakarta yang dibuat ketika itu, dengan tegas dinyatakan: Jakarta adalah kota kebudayaan. Continue reading “Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (1)”

Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (2-Habis)

Arie F. Batubara
suarakarya-online.com

TIM sendiri jelas-jelas sejak awal dirancang sebagai “pusat kesenian”. Hal ini tertuang secara eksplisit dalam Memori Penjelasan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. Ib.3/2/19/1968 tahun 1968 tentang Pembentukan Dewan Kesenian Jakarta, yang antara menyebutkan: …Jadi, Pusat Kesenian Jakarta merupakan semacam “pemberi ijazah” kepada kegiatan-kegiatan kesenian yang ada di luar Pusat Kesenian tersebut. Diharapkan dia akan merupakan titik pusat perhatian dari semua kegiatan yang ada di Jakarta… (ejaan disesuaikan, pen). Continue reading “Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (2-Habis)”

Bayang Negeri Tropis

Yusri Fajar *)
http://nasional.kompas.com/

Akhirnya aku tiba di negeri kelahiran Shakespeare, sastrawan ternama Inggris yang dikagumi banyak orang. Pilot mengumumkan beberapa saat lagi pesawat akan mendarat. Hari masih pagi namun bandara Internasional Heathrow London sudah ramai oleh penumpang yang datang dan pergi. Aku datang ke sini untuk menghadiri pentas puisi sekaligus menemui Carina di kota Leeds. Dari London aku akan melanjutkan perjalanan dengan bus ke Leeds. Carina pasti sudah menunggu kedatanganku. Continue reading “Bayang Negeri Tropis”

Gerilya Negri Sungsang I

(Catatan perjalanan di Desa Jono, Temayang, Bojonegoro)
Sabrank Suparno *

1. Keberangkatan

Setelah melakukan latihan ‘terakhir’ dalam proses naskah teater Negri Sungsang pada 20 Januari 2012, seluruh awak Komunitas Suket Indonesia berdiskusi khusus mengenai pementasan dua hari berikutnya tanggal 22 Januari di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Bojonegoro dan 23 Januari 2012 di Desa Maibit, Kecamatan Rengel-Tuban. Continue reading “Gerilya Negri Sungsang I”

Bahasa »