Buya Hamka Pahlawan Moderat

(Refleksi Hari Pahlawan)

M Rizqi Azmi *
padangekspres.co.id

Tahun ini presiden menyerahkan tujuh gelar pahlawan nasional kepada orang-orang yang telah berjasa besar mempertahankan dan /atau mengisi kemerdekaan Indonesia.Ketujuh nama tersebut adalah Mr Sjafruddin Prawiranegara, Idam Chalid, Buya Hamka, Ki Sarmidi Mangunsarkoro, I Gusti Ketut Pudja, Sri Susuhunan Pakubuwono X, Ignatius Joseph Kasimo. Continue reading “Buya Hamka Pahlawan Moderat”

Melodrama Hamka dalam Raun Sebalik

Ragdi F. Daye *
http://www.harianhaluan.com/

Rinai Kabut Singgalang (RKS) karya Muhammad Subhan terbit pada Januari 2011 me­nye­marakkan dunia sastra Indonesia. Novel ini seperti gabungan antara novel semi­biografis dan novel islami, hanya saja menggunakan gaya bahasa klasik, seperti karya sastra Indonesia paruh pertama abad 20. Novel ini membawa ingatan saya pada gaya tutur roman Siti Nurbaya atau pun Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; gaya bahasa yang men­dayu-dayu seperti puisi dan cenderung menggunakan kali­mat inversi—predikat menda­hului subjek. Continue reading “Melodrama Hamka dalam Raun Sebalik”

Buya Hamka Jadi Pahlawan Nasional

Undri
harianhaluan.com

Kita bangga dan bersyukur, berdasarkan Keputusan Pre­siden Nomor 113 TK 2011 Pemerintah Republik Indo­nesia meng­anugerahkan gelar pahlawan nasional kepada tujuh tokoh bangsa yang telah berjuang demi kepentingan negara. Salah-satu tokoh bangsa tersebut yakni Buya Hamka atau na­ma lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah dari Sumatera Barat. Sebelumnya, upaya pengusulan Buya Hamka menjadi pahlawan nasional telah dilakukan dalam berbagai upaya seperti melakukan pengkajian, seminar dan lainnya baik oleh per­guruan tinggi maupun pemerintah daerah sendiri. Kini, upaya tersebut telah berbuah hasil. Continue reading “Buya Hamka Jadi Pahlawan Nasional”

Hanya Bisa Meratap

Ahmad Zaini *

Di depan rumah, Mbah Sanusi duduk sambil menghisap rokok. Dari mulutnya keluar kepulan asap membumbung menerpa atap rumahnya. Seketika asapnya menghilang bersama hembusan angin yang lewat pada siang hari. Tubuh kurus yang terbalut seragam veteran disandarkan pada kursi goyang peninggalan orang tuanya sewaktu zaman penjajahan. Di sebelah kanan seragam dinasnya tersemat lencana veteran yang dikenakan setiap peringatan hari pahlawan. Continue reading “Hanya Bisa Meratap”

Bahasa »