Mengenang Wafatnya Pramoedya Ananta Toer 5 tahun

Surat-surat Pramoedya Ananta Toer dan Jendral Soeharto
Wandi Barboy Silaban *
http://www.kompasiana.com/wandibs

30 April 2006 di Karet, 5 tahun lalu tepatnya, kembali Indonesia berduka. Ya, di sana terbujurlah sang pengarang yang namanya beberapa kali dicalonkan meraih kandidat nobel di bidang kesusastraan dunia. Tapi, kandidat tinggallah kandidat. Hingga akhir hayatnya, nobel pun tak kunjung jatuh ke tangannya. Continue reading “Mengenang Wafatnya Pramoedya Ananta Toer 5 tahun”

Oase, Menjaga Puitisitas Puisi

Gendhotwukir *
KOMPAS, 9 Apr 2010.

Puisi bukan hanya milik penyair. Cerpenis dan novelis pun kini mendalami dan mengeksplorasi diksi secara serius. Artis, pengusaha dan penulis prosa tak ingin ketinggalan dan terkesan ramai-ramai ingin menjadi penyair pula. Dunia industri yang kian pesat seiring arus globalisasi pun menunjukkan kecenderungan yang sama dan tidak mau ketinggalan seperti jelas terungkap dalam iklan yang kian padat dan menukik. Kata-kata dan kalimat dalam iklan kalau sungguh kita amati sering mencapai kadar kata-kata yang estetis. Tak terhitung jumlahnya kalimat iklan yang menunjukkan kadar kata-katanya puitis dan benar-benar diolah dengan rasa bahasa. Continue reading “Oase, Menjaga Puitisitas Puisi”

Menikmati Alih Media Sastra ke Film

Hat Pujiati
http://www.balipost.co.id

MENIKMATI karya sastra berbeda dengan menikmati tulisan lain, kita menjelajah ke dunia lain dari yang kita huni saat membacanya. Katakanlah dunia dalam cerita pada titik-titik tertentu sejajar dengan dunia kita, tetapi yang tersaji di dalam cerita adalah hasil abstraksi pengarang yang merupakan bagian dari suatu masyarakat atas pengalaman dan imajinasinya. Continue reading “Menikmati Alih Media Sastra ke Film”

Bahasa ยป