Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia

Asep Sambodja
Cybersastra.net

Ada sebuah pertanyaan besar yang sampai sekarang belum ada jawaban yang memuaskan. Benarkah sastra Indonesia lahir pada 1920? Tidak sedikit pakar sastra Indonesia yang masih berpendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai pada 1920 dengan sejumlah argumentasi yang sekilas tampak mantap. Tanpa mengulang kembali apa yang telah disampaikan A. Teeuw, Ajip Rosidi, Yudiono K.S., Maman S. Mahayana, Bakri Siregar, bahkan Umar Junus dan Slametmoeljana, saya mencoba melihat upaya yang dilakukan para pakar sastra lainnya dalam merekonstruksi sejarah sastra Indonesia di era reformasi ini. Continue reading “Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia”

Nawal El-Saadawi: Petarung Tangguh Dari Mesir

Qaris Tajudin
Koran Tempo, 30 Mei 2001

Keteguhan Nawal El-Saadawi mempertahankan perkawinan terasa berbeda dengan karya-karyanya yang kerap menggugat lembaga perkawinan itu. Nawal melihat banyak perkawinan yang justru menyengsarakan perempuan.

Bagi Nawal El-Saadawi, feminis dan novelis Mesir, menggugat perkawinan di dunia Arab dengan nada kritis dan tegas adalah hal biasa. Dalam berbagai wawancara, artikel dan novelnya, ia kerap mengungkapkan kegeramannya terhadap ketidakadilan dalam lembaga perkawinan. Continue reading “Nawal El-Saadawi: Petarung Tangguh Dari Mesir”

Karen Armstrong: Dari Atheis ke Monotheis Bebas

Ihsan Ali-Fauzi
Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008

Penulis buku laris. Senang hidup sendirian. Kritis, tapi tak sinis pada Agama. Ditambah dengan sikap mau menang sendiri, politik adalah evil genius, “biang kerok” yang memecah-belah manusia belakangan ini. Jika dunia mau selamat, maka menjadi tugas mulia ideologi apa saja – entah yang religius atau sekuler – untuk membangun sikap-sikap manusia yang diawali oleh kesediaan untuk saling memahami dan menghormati. Continue reading “Karen Armstrong: Dari Atheis ke Monotheis Bebas”

Bahasa »