Inlander Dinilai

Rosihan Anwar
Kompas, 4 Des 2010

SAYA baca tentang korupsi, kerja sama politik dan kapital demi kekuasaan, penyelewengan hukum, hilangnya kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga resmi, dan kebobrokan lain.

Sebagai wartawan lepas, saya maklum sudah. Namun, kadang saya ingat aspek sejarah bangsa dan negeri ini yang jarang disinggung. Misalnya, penilaian wartawan Belanda mengenai Inlander, yakni Bumiputra atau pribumi di zaman kolonial. Continue reading “Inlander Dinilai”

Negeri Orang Sakit

Jakob Sumardjo
Kompas, 4 Des 2010

SAKIT adalah keadaan tak seimbang: sumbang. Ditanya ke mana, jawabannya waktu, misalnya malam. Ditanya kapan, jawabannya ruang, misalnya pasar. Kalau ditabuh mestinya berbunyi do, yang keluar malah bunyi de atau dar.

Indonesia adalah negeri sakit itu. Ada banyak ketakseimbangan. Pada dasarnya tak seimbang antara bobot isi dan bobot wadah. Banyak yang tak jodoh antara wadah dan isi. Pemimpin dan rakyat seharusnya jodoh, seimbang antara pemimpin sebagai isi dan rakyat sebagai wadah. Continue reading “Negeri Orang Sakit”

Wiro dan Sindrom Kolonial

Seno Gumira Ajidarma
Kompas, 5 Des 2010

KWIK Ing Hoo meninggalkan dunia ini pada Minggu 28 November setelah mencapai usia 89 tahun. Para pelayat di rumah duka Dharma Agung, Teluk Buyung, Bekasi, pada hari itu kemungkinan besar hanya mengenalnya sebagai seorang Rahmat Junus, ayahanda Toni Junus, dan bukan ilustrator komik Wiro, Anak Rimba Indonesia, yang digubahnya bersama Lie Djoen Liem sebagai penulis teks, yang telah pindah ke Amerika Serikat. Padahal, Wiro adalah komik Indonesia yang monumental. Ada selapis generasi di Indonesia, yang pada masa kecilnya di tahun ’50-’60-an begitu bangga berkalung katapel sembari berayun dari dahan ke dahan, tiada lain karena membaca Wiro. Continue reading “Wiro dan Sindrom Kolonial”

Keluar dari Jeratan “Bangsa Kuli”

Retor AW Kaligis *
Kompas, 6 Des 2010

HARGA diri bangsa kerap terusik oleh kisah pilu tenaga kerja Indonesia.
Kisah seperti terkatung-katungnya nasib ratusan pekerja asal Sukabumi di negeri tempatnya bekerja, penganiayaan Sumiati di Arab Saudi, tewasnya Rohani di Oman, dan telantarnya para TKW di Dubai berulang kali terjadi. Istilah ”bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa” seolah tak bisa lepas pada diri bangsa Indonesia. Istilah yang dipopulerkan Soekarno itu menggambarkan marjinalisasi dan proletarisasi bangsa di tengah alamnya yang luas dan kaya. Continue reading “Keluar dari Jeratan “Bangsa Kuli””

Bahasa »