Thukul, Engkau di Mana?

Wisnu Kisawa,Saroni Asikin
suaramerdeka.com

//Ana wiji ilang, katerak zaman/ana wiji ilang, ketendang kahanan/ilang wiji, thukul/ wiji ilang, thukul.//

TEMBANG itu mengakhiri film bertajuk Wiji Thukul Penyair dari Kampung Kalangan Solo karya Tinuk R Yampolsky. Pemutaran film tersebut menjadi bagian acara yang diselenggarakan Forum Sastra Surakarta bekerja sama dengan TBS Solo. Bersama pembacaan puisi karya Wiji Thukul dan diskusi mengenainya, seolah-olah sosok penyair yang kini masih “raib” itu hadir di Teater Arena TBS Solo, Minggu (15/9) malam. Continue reading “Thukul, Engkau di Mana?”

MEMBACA SASTRA DARI LOKUS BUDAYA SANG PENGARANG

Studi “Serampangan” atas Buku Puisi Takdir Terlalu Dini karya Nurel Javissyarqi *

Mh Zaelani Tammaka

KETIKA saya diminta untuk mengupas karya-karya puisi Nurel Javissyarqi, seperti yang terlumpul dalam Takdir Terlalu Dini ini, saya nyaris buta terhadap pengarang ini. Hal itu di antaranya karena faktor dekade kepengarangan dari yang bersangkutan, yang muncul pada paruh akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an, di mana pada periode itu lebih aktif sebagai seorang jurnalis daripada sebagai aktivis sastra. Continue reading “MEMBACA SASTRA DARI LOKUS BUDAYA SANG PENGARANG”

Pengakuan Anggota Waffen-SS (Günter Grass)

Dami N. Toda *
Kompas, 17 Sep 2006

Pengakuan Günter Grass bahwa dahulu dia anggota satuan pasukan elite Waffen-SS Nazi Hitler sungguh mengejutkan. Wajah kekejaman pasukan khusus Hitler SS (Schutzstaffel/regu jaga) dan Waffen-SS (regu tempur) tiba-tiba muncul kembali. Seragam tempur hijau daun zaitun dan hitam dengan leher baju bertanda aksara kembar “SS” Germania kuno, emblem berlambang kepala orang mati di bawah pedang terbelit ular siap memagut. Continue reading “Pengakuan Anggota Waffen-SS (Günter Grass)”

Bahasa »