Kebenaran yang Kalah dalam “Rintrik” Cerpen Danarto

Ahmad Suyudi *
Harian Jayakarta, 2 Mar 1989

Sebuah karya sastra merupakan suatu ekspresi estetis yang lahir dari jiwa pengarangnya. Ekspresi estetis ini lahir disebabkan oleh adanya impuls internal sebagai akibat adanya impuls eksternal pengarangnya. Oleh karenanya isi dari suatu karya sastra biasanya tidak jauh dari realitas-realitas yang ada di dalam kehidupan masyarakat di mana pengarang tersebut berada. Fenomena dan peristiwa-peristiwa yang ada atau terjadi di dalam kehidupan manusia terbaca oleh kepekaan hati dan pikiran pengarang dan terserap ke dalam batin/jiwanya. Continue reading “Kebenaran yang Kalah dalam “Rintrik” Cerpen Danarto”

Dami N. Toda sebagai Kritikus Sastra

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 23 Juni 2010

Sejak Dami N. Toda meninggal dunia 10 November 2006 di Hamburg (Jerman) sampai dengan pengantaran abu jenazahnya ke Indonesia/NTT, Oktober 2007, sejumlah koran nasional dan lokal NTT (Pos Kupang dan Flores Pos), memberitakannya. Wartawan Pos Kupang di Manggarai, Kanis Lina Bana, merekam kembali perjalanan hidup almarhum dan menghasilkan tiga tulisan berseri di Pos Kupang (25-27/10/2007). Continue reading “Dami N. Toda sebagai Kritikus Sastra”

“Perlawanan” Perempuan

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 26 Juli 2008

KETIKA seni, seperti disebut Marcus dan Myers (1991), dipahami sebagai ruang tempat keragaman, identitas, dan nilai budaya diproduksi dan dipertentangkan, demikian pula halnya dengan kliningan jaipongan. Para sinden penari (sinden ronggeng) dalam kliningan jaipongan di Subang, seperti juga gandrung di Jawa Timur, ronggeng, ledek, tandak, atau cokek di Betawi, keberadaannya dalam seni pertunjukan tradisional senantiasa dihubungkan dengan tokoh wanita yang punya peranan seks. Continue reading ““Perlawanan” Perempuan”

Djenar, Sudut Gelap Hidup Anak, dan “Menyusu Ayah”

Rohyati Sofjan
Suara Karya, 26 Juli 2008

ADA hal menarik dari tema yang diusung Djenar Maesa Ayu, kecenderungannya untuk memaparkan masalah seksual, semacam kompleks kejiwaan dan selalu dialami seorang [anak] perempuan. Itulah yang akan saya bahas di “Menyusu Ayah”, salah satu Cerpen Terbaik versi Jurnal Perempuan 2002 yang masuk antologi cerpen Jangan Main-main (dengan Kelaminmu). Antologi cerpen terbitan Gramedia yang provokatif dengan sampul merah menyala dan seolah menantang pembaca untuk menyelaminya. Continue reading “Djenar, Sudut Gelap Hidup Anak, dan “Menyusu Ayah””

Estetisasi dan Politisasi

Mudji Sutrisno SJ*
Seputar Indonesia, 27 Juli 2007

ESTETISASI adalah kerja yang memperindah tampilan serta panggung pertunjukan diri. Namun,tampilan mengada-ada itu selubung yang menyembunyikan fakta sebenarnya.

Apakah negara panggung, penelitian ahli budaya Geertz yang dikembangkan Umar Kayam (alm) menjadi negara gebyar merupakan estetisasi kenyataan semu? Jawabnya, ya.Sebab, basis kenyataan material nyata nusantara berada di penjajahan VOC,yakni raja-raja MataramPakubuwonodanHamengku Buwono tidak punya wilayah daratan teritorial lagi sebagai raja-raja. Continue reading “Estetisasi dan Politisasi”

Bahasa ยป