Djenar, Sudut Gelap Hidup Anak, dan “Menyusu Ayah”

Rohyati Sofjan
Suara Karya, 26 Juli 2008

ADA hal menarik dari tema yang diusung Djenar Maesa Ayu, kecenderungannya untuk memaparkan masalah seksual, semacam kompleks kejiwaan dan selalu dialami seorang [anak] perempuan. Itulah yang akan saya bahas di “Menyusu Ayah”, salah satu Cerpen Terbaik versi Jurnal Perempuan 2002 yang masuk antologi cerpen Jangan Main-main (dengan Kelaminmu). Antologi cerpen terbitan Gramedia yang provokatif dengan sampul merah menyala dan seolah menantang pembaca untuk menyelaminya.

Saya cenderung memandang karya Djenar sebagai semacam letupan-letupan yang mengasyikkan. Bahwa ia dengan tokoh-tokohnya seolah mengobrak-abrik tatanan moral yang penuh hipokrisi. Dan efek repetisi (perulangan) adalah semacam “bius” agar pembacanya bisa trance ke alam lain.

Blak-blakan, memang. Namun bukankah dalam realitas sekitar pun hal itu bukanlah sesuatu yang asing?

“Menyusu Ayah” terasa absurd alurnya. Namun absurditas itu tidaklah kental nuansanya. Rada mild. Kalau dibidik dari sudut pandang psikologis, tokoh aku-anak terasa “dewasa” dalam kenaifannya. Matang secara seksual sejak usia dini bukanlah hal ajaib lagi. Orang boleh saja merekanya sebagai fiksi, namun bukan mustahil apa yang dipaparkan Djenar sebenarnya merupakan sudut gelap dari kehidupan anak.

Kita jadi ikut berandai-andai sebab pengandaian Djenar terasa menabrak pakem “tabu” namun mengena. Kalaupun tokoh utamanya terasa eksistensialis dan sibuk bergulat dengan pemikiran tentang dirinya di antara orang lain, itu merupakan pemikiran “asli” Djenar yang subjektif dan khas. Sesuatu yang disebut “warna jiwa” dalam bahasanya.

Makanya saya tak keberatan dengan seksualitas yang diusung Djenar karena waktu kecil dulu pernah nyaris jadi korban pedofilia. Memang tidak parah karena waktu itu cuma dipangku kawan saudara saya, orang dewasa sekira 25-an. Waktu itu kami di kamar yang sepi, siang hari, dan saudara saya ada di kamar mandi. Tak tahu mengapa ia demikian, bersikap akrab atau apa, namun tindakannya terasa tidak wajar. Main pangku dan elus kepala segala, lalu pelukan dan elusannya terasa aneh, jadi saya buru-buru cabut darinya sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Alhamdulillah, selamat.

Ini hanyalah salah satu contoh nyata, banyak contoh lain yang saya persaksikan. Antara fiksi dan fakta memang tipis selubungnya. Namun imajinasi pengarang menentukan peran: bagaimana popularitas sampai esensi cerita itu akan dicerna pembaca. Di sanalah Djenar memainkan psikologi tokoh-tokohnya dengan gaya tutur “saya” agar pembaca pun turut serta berperan sebagai tokoh utama atau memahami ada saya-lain yang tak terkira.

Begitulah Djenar, memainkan karakter tokoh-tokohnya secara naif, lugas, keras kepala dengan prinsip hidupnya. “Menghardik” masyarakat yang punya pakem gelap-gelapan dalam hal moral dengan menyodorkan moral-lain versi dirinya. Terlepas dari tidak setujunya saya dengan prinsip demikian, namun yang menarik adalah hal tersebut bisa jadi merupakan fakta. Lalu, haruskah Djenar dikecam karena memilih angle macam itu dalam versinya?

Bagian mana yang menarik dari cerpen itu? Kekuatan perempuan!

Perempuan yang selama ini diposisikan sebagai “korban” bisa mengambil alih permainan selaku “pemeran”, terutama menghadapi lelaki berikut sesama kaumnya sendiri, baik secara personal maupun kelompok.

Ketika direpresi, ia punya imajinasi akan kendali yang diyakininya untuk memutarbalikkan keadaaan atau setidaknya melunakkan tekanan dengan prinsip keras kepalanya bahwa ia bukanlah makhluk lemah. Orang lain boleh menganggap apa tubuhnya, ia sebagai pemilik tubuh punya hak akan memberi “jiwa” macam apa pada tubuh tersebut.

Lalu Nayla pun dengan keras kepala meyakini prinsip dasar yang dianutnya:

Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.

Saya mengenakan celana pendek atau celana panjang. Saya bermain kelereng dan mobil-mobilan. Saya memanjat pohon dan berkelahi. Saya kencing berdiri. Saya melakukan segala hal yang dilakukan anak laki-laki.

Potongan rambut saya pendek. Kulit saya hitam. Wajah saya tidak cantik. Tubuh saya kurus kering tak menarik. Payudara saya rata. Namun saya tidak terlalu peduli dengan payudara. Tidak ada pentingnya bagi saya. Payudara tidak untuk menyusui tapi hanya untuk dinikmati lelaki, begitu kata Ayah. Saya tidak ingin dinikmati lelaki. Saya ingin menikmati lelaki, seperti ketika menyusu penis Ayah waktu bayi. (Hlm. 36-37).

Dahsyat! Konsepsi pemikiran Djenar lewat tokoh Nayla dan struktur bahasanya yang penuh repetisi seakan hendak menegaskan keyakinan Sang Tokoh yang lugas dan tegas di balik citra “lemah”.

Di sanalah Djenar bermain dengan tanda penis, air mani, susu, payudara, kencing berdiri, rambut, kulit, wajah, tubuh, dan sekian penanda lainnya; untuk mengingatkan bahwa hal tersebut eksploratif sekaligus eksploitatif.

Lalu karakter Nayla, secara psikologis ia telah bicara banyak dengan prinsip-prinsipnya. Di balik keluguan, ia tengah mencerna hidangan pelajaran kehidupan. Dan perspektifnya menghenyakkan kita. Betapa Nayla pun bisa “dewasa”.

Tapi tidak ada pesta yang tidak usai. Kebahagiaan adalah saudara kembar kepahitan. Ternyata orang dewasa lebih mampu berkhianat. Ternyata tidak semua orang dewasa hanya mau menyusu. (Hlm. 40)

Siapakah pengkhianat itu?

Pelan-pelan kita dibawa dalam setiap fragmentasi adegan dari halaman 41 s.d. 43. Ketika “menyusui” berubah jadi perkosaan. Sosok teman-teman Ayah ternyata berubah wujud jadi Ayah sendiri. Kita tak mengira bahwa pemerkosa itu ternyata harus orang yang dekat dengan Sang Nayla; figur pengayom pun ternyata melakukan lebih daripada apa yang dilakukan kawan-kawannya dalam hal “menyusui”. Di sana ada efek ketidaksadaran, pada mulanya Nayla merasa asing lalu kemudian ia mengenal baik siapa pelakunya: ayahnya sendiri!

Sosok tersebut seolah ditampilkan dalam citraan “mimpi”, mula-mula samar lalu jelas setelah ada efek kesadaran. Serba mengawang.

Di sana umpama tersebut saya paparkan untuk memberi kebebasan; pilihan rasa apa yang di benak Nayla – juga kita, pembacanya?

Yang menarik adalah Nayla masih bisa melakukan perlawanan di akhir adegan perkosaan tersebut:

Tangan saya meraih patung kepala kuda di atas meja dan menghantamkan ke kepalanya. Tubuhnya mengejang sesaat sebelum ambruk ke tanah. Matanya masih membelalak ketika terakhir kali saya menatapnya sebelum dunia menggelap. Pancaran mata itu, tidak seperti pancaran mata teman-teman Ayah yang lain. Pancaran mata itu, sama seperti pancaran mata Ayah. (Hlm. 43)

Ia telah kehilangan kenikmatan menyusui. Dari “bayi”, ia berubah jadi gadis kecil yang didewasakan keadaan. Pada usia berapakah peristiwa tersebut terjadi? Yang jelas barangkali semasa akil balig, setelah masa menstruasinya, sebab pada akhirnya Nayla bisa hamil. Itu absurd. Mengandung anak dari ayahnya. Inses dalam pandangan seorang anak.

Bukankah absurditas hidup itu kompleks? Sering kita temui dan baca hal macam itu. Namun Djenar memaparkannya dengan struktur cerita dan bahasa yang lekas. Eksistensialisme yang mandiri.

Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.

Kini, saya adalah juga calon ibu dari janin yang kelak akan berubah menjadi seorang anak yang kuat, dengan atau tanpa figur ayah. (Hlm. 43).

Getir namun optimis!

Demikianlah membaca Djenar Maesa Ayu. Tema seksual tak bisa begitu saja dikategorikan amoral. Ia justru memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan moral. Tatanan moral yang jungkir balik dalam sisi gelap kehidupan. Sesuatu yang kita tolak dan sangsikan, namun sebenarnya senantiasa mengintai.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/07/esai-djenar-sudut-gelap-hidup-anak-dan.html