Si Lugu dan Si Malin Kundang

Hamsad Rangkuti
Kompas, 28 Okt 2007

Sekuriti kompleks perumahan mewah menghambat masuk orang tua dengan beban sepikul hasil bumi. Pintu gerbang tidak dia buka. Orang tua itu mengatakan dia berjalan dari stasiun kereta api mencari kompleks perumahan itu. Setandan pisang, dua ikat jagung, satu buah nangka masak, dan seekor ayam. Polisi lalu lintas melihat peristiwa itu dan menghentikan kendaraan roda duanya. Dia ingin tahu walau sebenarnya hal semacam itu bukanlah tugasnya. Continue reading “Si Lugu dan Si Malin Kundang”

U s u s B u n t u

S. Jai
JAWA POS, 23 Okt 2011

ANAK pertamaku lahir ketika suamiku kehilangan pekerjaan. Meski kehamilanku saat itu direncanakan, ternyata Tuhan berkehendak lain. Suamiku dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja selama bertahun-tahun.

Selang kurang dari dua tahun, anak keduaku turun ke dunia waktu suamiku masih pengangguran. Jelas kali ini si jabang bayi lahir dari kehamilan yang tak terencana. Seingatku itu terjadi akibat kami tak mampu secara rutin membeli kondom antihamil. Continue reading “U s u s B u n t u”

Memikirkan Indonesia: Dari dan Untuk Tan Malaka [1]

Fadly Rahman [2]

Bila revolusi dalam sejarahnya dikatakan acapkali “memakan anaknya sendiri”, maka itu ungkapan, mengena benar untuk Tan Malaka. Sosok yang rekam jejaknya nyata, ada, namun kemudian seakan memitos karena dihilangkan/ditiadakan dalam sejarah pembentukan dan perkembangan republik ini. Setelah masa reformasi sosoknya mengemuka kembali. Ada yang masih mengidentikannya sebagai seorang komunis –dipahami awam sebagai negatif; bahkan sebaliknya, ia dikultuskan melalui berbagai ekspresi budaya pop berupa kaus, pin, dan pamflet (mungkin bisa saja kelak nyaris senasib dengan si ikon revolusi dari Amerika Latin, Ernesto ‘Che’ Guevara). Continue reading “Memikirkan Indonesia: Dari dan Untuk Tan Malaka [1]”

Sastrawan yang Baik sama dengan Kritikus yang Baik

RESPONS TERHADAP TULISAN DARMAN MOENIR DAN HERU JONI PUTRA

Andhika Dinata *
harianhaluan.com

Ada yang bertanya. Ada yang menjawab. Ada yang mengkritik. Ada yang mengulas. Tanya-jawab, kritikan, ulasan menjadi buah pena yang lazim dari suatu kritik sastra. Seorang kritikus tidak disebut “kritikus” apabila ia tidak mampu mengkritik. Begitu juga sebaliknya, seorang kritikus tidak akan dapat pula disebut “kritikus” apabila ia tidak “berbesar hati” untuk dikritik. Budaya kritik-mengkritik dalam konteks -kritik sastra- memang harus terus berkembang menjadi siklus eksistensi yang tidak boleh padam. Continue reading “Sastrawan yang Baik sama dengan Kritikus yang Baik”

Bahasa »