Saat Puisi Lampung Digugat Publik

Budi P. Hatees, Dwi Wahyu Handayani*
Lampung Post, 26 Juni 2006

Lokalitas dalam karya sastra acap dimaknai secara artifisial, sekadar mengutip idiom-idiom lokal ke dalam ekspresi bahasa sastra, sama-sekali tidak memberi substansial atas kelokalan tersebut.

Fakta inilah yang terungkap dalam diskusi yang membicarakan puisi-puisi karya Udo Z. Karzi di Lantai 1 Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Sabtu malam (24-6). Dalam acara Jumpa Bilik Sastra yang digelar UKMBS Unila itu, penyair yang biasa menulis puisi dalam bahasa Lampung ini, mengawali acara dengan membacakan karya-karyanya. Continue reading “Saat Puisi Lampung Digugat Publik”

Sastra Tutur Terancam, Bahasa Lampung Terpinggirkan

Helena F. Nababan
Kompas, 23 Juni 2006

Gara-gara generasi muda Lampung enggan dan sulit mempelajari bahasa daerahnya sendiri, jumlah penutur asli semakin sedikit. Akibatnya, perkembangan sastra tutur Lampung saat ini semakin terancam.

Riagus Ria, pemerhati seni tradisi Lampung, Kamis (22/6) di Bandar Lampung mengatakan, bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, mempelajari bahasa asli Lampung dinilai sebagai kemunduran, bahkan sebagai hal kuno. Continue reading “Sastra Tutur Terancam, Bahasa Lampung Terpinggirkan”

Sajak sebagai Alat Kontrol Politik

Eri Anugerah*
Media Indonesia, 16 Nov 2006

MENDIANG Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pernah memberikan analogi tentang politik dan puisi. Apabila politik membengkokkan, sajak meluruskannya.

Dengan kata lain sajak bisa menjadi sebuah alat untuk mengontrol arah politik. Seperti yang dilakukan Asrizal Nur, Tengku Azmun Jaafar, dan Mastur Taher, serta tujuh orang lainnya yang tergabung dalam Yayasan Panggung Melayu, menjadikan puisi sebagai alat kontrol kekuasaan. Continue reading “Sajak sebagai Alat Kontrol Politik”

Membincang Dunia Sastra Indonesia di Sanur

Nuryana Asmaudi
Bali Post, 17 Des 2006

BALI kembali jadi tuan rumah event sastra bertaraf nasional. Hajatan bertajuk “Temu Sastra II Mitra Praja Utama 2006” (MPU 2006) yang digelar di Hotel Inna Sindhu Beach, Sanur, pada 12-15 Desember lalu itu melibatkan para sastrawan terkemuka Indonesia, pegiat sastra, pengajar, akademisi sastra, sampai birokrat pemerintah. Sebuah peristiwa besar dunia sastra di Tanah Air yang menarik dan penting untuk dicatat. Continue reading “Membincang Dunia Sastra Indonesia di Sanur”

Membincang Sastra Dalam Deru Ombak

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika, 24 Des 2006

SEPERTI terinspirasi Temu Sastra I Mitra Praja Utama (MPU) yang digelar di Pantai Anyer Banten, pekan lalu Temu Sastra II MPU digelar di tepi Pantai Sanur, Bali. Di aula terbuka Hotel Inna Sindhu Beach, sekitar 20 meter dari garis pantai, diskusi dan pentas sastra dilaksanakan, dalam iringan deru angin dan ombak. Di malam hari, deru ombak makin terdengar nyata, mengiringi suara pembicara dan pembaca sajak. Continue reading “Membincang Sastra Dalam Deru Ombak”

Bahasa ยป