Membincang Sastra Dalam Deru Ombak

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika, 24 Des 2006

SEPERTI terinspirasi Temu Sastra I Mitra Praja Utama (MPU) yang digelar di Pantai Anyer Banten, pekan lalu Temu Sastra II MPU digelar di tepi Pantai Sanur, Bali. Di aula terbuka Hotel Inna Sindhu Beach, sekitar 20 meter dari garis pantai, diskusi dan pentas sastra dilaksanakan, dalam iringan deru angin dan ombak. Di malam hari, deru ombak makin terdengar nyata, mengiringi suara pembicara dan pembaca sajak.

Tempat makan dan rehat pun ditata nyaris di bibir pantai, di bawah rindang pohon-pohon kelapa. Sehingga, sambil menyantap hidangan bermenu khas Bali, para peserta bisa memandang riak ombak dan hamparan laut lepas yang kebiruan. Suasana tamasya sangat terasa pada even sastra yang diikuti 10 provinsi anggota MPU itu.

Digelar selama empat hari (12-15 Desember 2006), even dua tahunan itu didesain untuk meningkatkan kemitraan yang lebih sinergis antara sastrawan, akademisi, pegiat sastra, wartawan, dan birokrat kesenian. Berbagai persoalan pemasyarakatan serta peran sastra dalam membangkitkan harkat dan martabat bangsa dibicarakan bersama untuk dicarikan soluisi terbaiknya.

Diikuti sekitar 100 peserta, sebagian besar angota delegasi dari 10 provinsi anggota MPU — DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur — Temu Sastra II MPU dibuka oleh Gubernur Bali Dewa Made Baratha dengan pemukulan gong. Pementasan tari Bali dan pembacaan sajak memeriahkan acara pembukaan.

Dibingkai dalam tema Peranan Sastra dalam Membangkitkan Harkat dan Martabat Bangsa, berbagai topik menarik dibahas pada sesi-sesi diskusi yang berlangsung sejak pagi hingga larut malam. Sesi pertama mengevaluasi strategi pemasyarakatan sastra, dengan pembicara Dendy Sugono dan Joko Pinurbo. Sesi kedua tentang membangun religiusitas melalui sastra, dengan pembicara Ahmad Tohari, Isbedy Stiawan ZS dan D Zawawi Imron.

Sesi berikutnya membahas peran komunitas sastra dalam pemasyarakatan sastra, dengan pembicara Raudal Tanjung Banua dan Ahmadun Yosi Herfanda. Sesi keempat membahas tentang multikultur dan sastra lintas budaya dengan pembicara Yasraf Amir Piliang dan Triyanto Triwikromo. Sesi kelima membahas tentang Bali dalam konteks sastra nasional dan global dengan pembicara Jean Couteau dan Darma Putra. Sesi terakhir tentang posisi sastrawan dalam pembangunan kebudayaan dengan pembicara Slamet Sukirnanto dan Soemardi.

Pelaksanaan Temu Sastra II MPU di Bali dipercayakan kepada Forum Pecinta Sastra se-Bali (FPSB) yang diketuai oleh Drs IB Darmasuta, yang sekaligus dipercaya sebagaui ketua panitia, atas dukungan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Menurut Ketua Sekber MPU Moerdiman, Temu Sastra MPU merupakan salah satu wujud kegiatan kerja sama 10 provinsi yang tergabung dalam wadah MPU. Wadah kerja sama MPU menggarap hampir semua sektor pemberdayaan masyarakat, sejak ekonomi, kesehatan, sampai seni-budaya. Program MPU untuk bidang seni-budaya, selain temu sastra, adalah Duta Seni Pelajar yang dilaksanakan tiap tahun — tahun 2005 di Yogyakarta, tahun 2006 di Banten, dan tahun 2007 di Jakarta.

Temu Sastra MPU 2006 menghasilkan beberapa kesepakatan dan rekomendasi penting. Temu sastra MPU disepakati menjadi agenda dua tahunan yang pendanaannya disiapkan oleh masing-masing provinsi anggota MPU. Temu sastra MPU dilaksanakan secara bergilir berdasarkan kesepakatan bersama, serta harus melibatkan sastrawan, akademisi sastra, pegiat sastra, wartawan, dan birokrat.

Sidang pleno juga menyepakati bahwa sastra dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Delegasi yang akan mengikuti Temu Sastra MPU setidaknya dapat merepresentasikan kualitas daerahnya masing-masing. Dan, secara khusus Propinsi Jawa Barat ditunjuk sebagai penyelenggara MPU III 2008.

Temu Sastra MPU II juga merekomendasikan agar Menteri Pendidikan Nasional RI menugaskan kepada Pusat Bahasa untuk mendukung penyelenggaraan Temu Sastra MPU dan menerbitkan karya sastra yang direkomendasikan dalam sidang Temu Sastra MPU. Rekomendasi serupa juga ditujukan kepada Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya RI, agar menugaskan kepada Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film untuk mendukung Temu Sastra MPU.

Dua rekomendasi lain ditujukan kepada para gubernur provinsi anggota MPU, yakni agar gubernur menganggarkan dana untuk penyelenggaraan Temu Sastra MPU dan melaksanakan kegiatan sastra lainnya yang nantinya akan dapat mendukung dan bermuara pada Temu Sastra MPU. Selain itu, gubernur juga direkomendasikan agar menyosialisasikan seluas-luasnya kesepakatan pengembangan dan pemasyarakatan sastra di wilayah kerja masing-masing.

Sisi menarik lainnya dari Temu Sastra MPU II Bali adalah pertunjukan sastra. Pada malam pertama, tampil D Zawawi Imron (Madura), Wan Anwar (Banten), Acep Zamzam Noor (Bandung), Diah Hadaning (Jakarta), Inggit Patria Marga (Lampung), serta beberapa penyair Bali, seperti Pranita Dewi, Abu Bakar, Sindu Putra dan Wayan Sunarta.

Pada malam berikutnya, antara lain tampil Ahmad Tohari (Jawa Tengah), Slamet Sukirnanto, Miranda Putri, Rara Gendis, dan Hamsad Rangkuti (Jakarta), serta Dinullah Rayes (NTB). Tampil juga Joko Pinurbo (Yogyakarta), Isbedi Stiawan ZS (Lampung), Slamet Rahardjo Rais dan Endang Supriadi (Jakarta), serta Oka Rusmini, Ngurah Parsua, Samar Gantang, dan Putu Satria Kusuma (Bali).

Pada hari ketiga, peserta mengikuti ‘wisata budaya’ mengunjungi objek-objek wisata terpenting di Bali. Hari keempat diisi sidang perumusan, dan upacara penutupan. Meski kental nuansa wisata, Temu Sastra MPU menjadi bagian dari upaya untuk membantu mewujudkan cita-cita mulia membangun bangsa melalui sastra. Pesan mendasarnya adalah agar pemerintah tidak hanya mengutamakan pembangunan fisk dan materi, tapi juga pembangunan nilai-nilai budaya melalui sastra guna memperkuat jati diri bangsa.

DKI Dukung Temu Sastra MPU

Temu Sastra MPU merupakan even yang sangat penting untuk dijadikan forum bertukar pikiran antara sastrawan, akademisi, pegiat sastra, dan birokrat kesenian, guna mencari pemecahan atas persoalan-persoalan sastra terkini. Dengan solusi itu, diharapkan pemasyarakatan dan pengembangan sastra dapat dilakukan bersama secara lebih intensif lagi.

Karena itu, menurut Wakil Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, Agung Widodo, Pemda Provinsi DKI Jakarta serius mendukung pelaksanaan temu sastra tersebut. ”Salah satu buktinya, DKI mengirimkan delegasi terbanyak ke Temu Sastra MPU II Bali,” kata Agung Widodo, ketua delegasi DKI Jakarta.

Dikoordinir oleh Kasubdis Pembinaan Seni Budaya Yusuf Sugito, delegasi DKI terdiri dari Hamsad Rangkuti, Slamet Rahardjo Rais, Sunu Wasono, Endo Senggono, Ahmadun YH, Endang Supriadi, Miranda Putri, Pudji Isdriani, Rara Gendis, Ima Rahmawati, serta beberapa staf Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Selain mereka, beberapa sastrawan dan akademisi sastra Jakarta, seperti Dendy Sugono, Slamet Soekirnanto, dan Soemardi, berangkat melalui Pusat Bahasa Depdiknas. Sementara, Provinsi Banten, tempat MPU pertama digelar, antara lain mengirimkan Wowok Hesti Prabowo, Wan Anwar dan Rubby Ach Baedawy. (ahmadun yh)

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2006/12/temu-sastra-mpu-bali-membincang-sastra.html