“juru peta” sastra Indonesia [Hans Bague Jassin]

“Buku-buku para Manifestan dilarang terbit dan beredar.” H.B. Jassin

Leila S. Chudori
majalah.tempointeraktif.com

DI samping mendapat julukan “Paus” Sastra Indonesia, Hans Bague Jassin juga dipanggil administrator dan diktator sastra. Ia pernah memukul Chairil Anwar. Dihukum 1 tahun penjara gara-gara cerpen Langit Makin Mendung. Inilah orang yang telah menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia. Lahir di Gorontalo, 31 Juli 191 7, mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia, juru peta sastra Indonesia yang tak pernah lelah. Continue reading ““juru peta” sastra Indonesia [Hans Bague Jassin]”

Menggagas Kamus Besar Bahasa Lampung

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Kamus merupakan khazanah yang memuat perbendaharaan kata suatu bahasa, yang secara ideal tidak terbatas jumlahnya. Hal ini sesuai dengan arti kata kamus yang diserap dari bahasa Arab qamus (jamak: qawamis), yang berasal dari kata Yunani okeanos yang berarti “lautan”. Sejarah kata itu jelas memperlihatkan makna dasar yang terkandung dalam kata kamus, yaitu wadah pengetahuan, khususnya pengetahuan bahasa, yang tidak terhingga dalam dan luasnya. Continue reading “Menggagas Kamus Besar Bahasa Lampung”

Memberangus Cinta

Imron Rosyid
http://www.tempointeraktif.com/

Lusinan orang bak sepasukan kerajaan dengan hiruk-pikuk sorak sorai pembangkit semangat berbaur dengan suara entakan kaki-kaki tanpa sepatu. Mereka berlari dan jalan tanpa alur, mengikuti irama yang mereka buat sendiri. Mereka berputar-putar mencari arah meninggalkan dua sosok lelaki dan perempuan yang duduk berhadap-hadapan. Continue reading “Memberangus Cinta”

Dari Sakral Menjadi Banal

Hanibal W. Y. Wijayanta, Syaiful Amin
majalah.tempointeraktif.com

SEJARAH mencatat, tayub muncul pada zaman Kerajaan Kediri, abad ke-11 Masehi. Mulai berkembang di Jawa bagian timur dan tengah, tradisi ini tercatat dalam buku Kakawin Bharata Yudha karya Mpu Sedhah dan Mpu Panuluh pada 1079 Saka atau 1157 Masehi. Pada pupuh XIII bait ke-8 terdapat kisah para Pandawa yang sedang nayub. Prof Dr. R.M. Sutjipta Wirjosuparto (1968) menerjemahkan nayub sebagai “menari-nari dan bergembira dengan riuhnya”. Continue reading “Dari Sakral Menjadi Banal”

Bakti Seorang Putri [Sekar Pembayun]

Edi Sedyawati
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEORANG raja, Panembahan Senapati, memberikan tugas kenegaraan kepada putri sulungnya, Sekar Pembayun. Dengan daya pikat kewanitaannya, putri ini harus menaklukkan seorang pemberontak yang tangguh: Ki Ageng Wanabaya dari Mangir. Si putri dan pengiringnya lalu turun ke Mangir, menyamar sebagai penari keliling. orang-orang tertarik. Bahkan Ki Ageng Mangir sendiri terpikat, dan Sekar Pembayun dipersuntingnya. Continue reading “Bakti Seorang Putri [Sekar Pembayun]”

Bahasa »