Kisah Mangir dalam Sastra Basa

Wisnu Kisawa
suaramerdeka.com

KISAH Ki Ageng Mangir Wanabaya selama ini dikenal menyimpan banyak nilai kemanusiaan. Lantas menjadi seperti apa, jika lakon yang penuh dengan human interest itu dibawakan oleh para ahli sastra seperti para dalang?

Teriakan Ki Ageng Wanabaya yang begitu keras membuat Pamikatsih harus mundur beberapa langkah. Air pun kemudian menetes dari kedua kelopak matanya. Namun toh air mata sang istri itu tetap saja tidak menyurutkan amarah Ki Ageng yang memang tengah begitu meledak. Continue reading “Kisah Mangir dalam Sastra Basa”

Ki Ageng Giring

Moyo Surokarto
http://www.facebook.com/topic.php?uid=108078399210773&topic=158

Ki Ageng Giring adalah salah seorang keturunan Brawijaya IV dari Retna Mundri, yang hidup pada abad XVI. Dari perkawinannya dengan Nyi Talang Warih melahirkan dua orang anak, yaitu Rara Lembayung dan Ki Ageng Wanakusuma yang nantinya menjadi Ki Ageng Giring IV. Continue reading “Ki Ageng Giring”

Sutawijaya Mbalela (1)

Sastraadiguna
kompasiana.com/sastraadiguna

Pengasingan Tumenggung Mayang

Tumenggung Mayang dan isterinya setelah menyaksikan mayat anaknya yang di buang di sungai Lawéyan, dalam hatinya merasa terharu dan menyesal atas perlakuan pada putranya sendiri. Namun demikian, se jahatjahat orang tua tidak mungkin sampai hati melihat anaknya dianiaya oleh orang lain, téga larané ora téga patiné. Kemudian memerintahkan beberapa orang untuk merawat jenazah Pabelan, dan di kebumikan dengan sebaik-baiknya. Continue reading “Sutawijaya Mbalela (1)”

Sutawijaya Mbalela (2)

Sastraadiguna
http://www.kompasiana.com/sastraadiguna

Pakuwon Randulawang

ki Juru Martani sedang mengatur strategi bersama Senapati ing Ngalaga, “ Jebèng Sutawijaya, kadya paran ing karsanira, tan wurung aprang klawan ramanta Sultan Pajang sayekti pira dohé mung let iku sadhidhik kali Opak, wengi iki bénjing aprang pupuh, manira kelakung merang mulat mantri Pajang yekti yèn tempuh ngawaki yuda, déné bapa mungsuh siwi rebut nagri aprang pupuh Continue reading “Sutawijaya Mbalela (2)”

Bahasa »