Pramoedya Ananta Toer Juga Manusia

Mila Novita
sinarharapan.co.id

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Begitu Pramoedya Ananta Toer (atau akrab disapa Pram) berpesan dalam Rumah Kaca, salah satu buku dari tetralogi roman Pulau Buru yang diwariskannya untuk Indonesia.

Tulisan Pram memang membuat ia tidak hilang dari sejarah, meskipun pada 30 April tiga tahun lalu jasadnya dimakamkan di pemakaman Karet Bivak, Jakarta. Ia sastrawan terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Ia juga satu-satunya sastrawan Indonesia yang berulang kali dinominasikan sebagai peraih penghargaan Nobel, meski tidak pernah “sukses” membawa penghargaan itu pulang ke negerinya. Continue reading “Pramoedya Ananta Toer Juga Manusia”

Kritik Sosial “Mencari Jejak Gunung”

Gendhotwukir *
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Festival Lima Gunung (FLG) VII baru saja digelar beberapa waktu lalu di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Magelang, dengan mengusung tema “Mencari Jejak Gunung”.

Festival Lima Gunung yang setiap tahunnya menghadirkan berbagai seniman dusun Kabupaten Magelang, tokoh nasional, maupun komunitas dari luar kota, merupakan ajang untuk saling bertemu, serta belajar memahami kondisi masyarakat kita yang pluralistik dalam proses budayanya yang tidak berhenti sebagai kata benda. Continue reading “Kritik Sosial “Mencari Jejak Gunung””

Naskah-Naskah yang Terlupakan

Seno Joko Suyono, Lucia Idayani, Heru Nugroho
http://majalah.tempointeraktif.com/

Begitu melewati hutan-hutan cemara yang sunyi, masuklah kami ke wilayah Desa Kendakan, desa di lereng Merbabu yang juga seperti desa-desa di pegunungan lain. Jalanan batu rapi dengan rumput di sela-selanya sehingga tidak licin bila hujan. Udara segar, dan sesekali tercium bau asap lisong.

Sore itu, kami mencari seorang dalang bernama Sumitro. Bertanya-tanya dari kaki sampai lereng gunung, hampir semua warga kenal dan dapat menunjukkan rumahnya. Rumah yang amat sederhana. Kaca jendelanya buram, penuh tempelan stiker para pendaki gunung. Continue reading “Naskah-Naskah yang Terlupakan”

Andrea Hirata, Ingin ‘Sulap’ Tanah Kelahiran Jadi Desa Sastra Pertama

Endro Yuwanto, Neni Ridarineni
http://www.republika.co.id/

Penulis novel ‘Laskar Pelangi’, Andrea Hirata, ingin menjadikan Desa Linggang, di Pulau Belitung, yang merupakan tanah kelahirannya sebagai desa sastra pertama kali di Indonesia.

”Sampai sejauh ini konsep Desa Sastra Linggang merupakan inisiatif pribadi saya saja. Konsep ini sudah lama ada dalam pikiran dan ide saya itu semakin menemukan jalan ketika saya dapat beasiswa sastra ikut International Writing Program (IWP) 2010 di University of Iowa, Amerika Serikat ini. Continue reading “Andrea Hirata, Ingin ‘Sulap’ Tanah Kelahiran Jadi Desa Sastra Pertama”

Rumah Baca Komunitas Merapi, Oase di Kaki Gunung

Regina Rukmorini
http://oase.kompas.com/

Masih mengenakan caping, Stevanus Mindut (30) bertandang ke Rumah Baca Komunitas Merapi di Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Dia langsung menuju rak tempat majalah.

Mindut mengambil sebuah majalah dan mulai membaca dengan asyik. Ini adalah kebiasaannya setiap kali pulang dari sawah, yang menjadi hobi sejak Rumah Baca Komunitas Merapi dibuka pada Februari 2009. “Ketika rumah baca ini dibuka, saya seperti menemukan tempat hiburan baru,” ujar petani sayur di Dusun Gemer, Jumat (13/3). Dusun Gemer berjarak sekitar 8 kilometer dari puncak Merapi. Continue reading “Rumah Baca Komunitas Merapi, Oase di Kaki Gunung”

Bahasa ยป