Waktu dan Mahabharata

Nyoman S Pendit
http://www.balipost.co.id/

WAKTU adalah waktu, waktu adalah peristiwa, waktu adalah sejarah. Hanya waktu yang dapat mengisahkan masa lalu, masa kini dan masa akan datang. Hanya waktu yang dapat mengisahkan peristiwa besar Mahabharata, sebuah kisah kepahlawanan abadi. Waktulah yang mengisahkan jatuh bangunnya suatu kebudayaan dan peradaban. Waktu pulalah yang mengisahkan permusuhan antara kebenaran melawan semua yang tak benar. Mahabharata adalah kisah vidya (cahaya ilahi) berhadapan dengan avidya (kegelapan). Tidak ada siapa pun yang dapat mengisahkan karya besar ini kecuali waktu. Sebab hanya waktulah yang menjadi saksi sejarah, walau mengenai tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu peristiwa. Continue reading “Waktu dan Mahabharata”

Geliat Seni Aceh Pasca-Tsunami

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika

Dilanda konflik disintegrasi selama puluhan tahun, dan diterjang tsunami pada 28 Desember 2004, seni-budaya Aceh tidak lantas punah. Pasca-tsunami, seni-budaya Serambi Mekah justru menggeliat bangkit. Begitu juga kehidupan sastranya. Ribuan karya kembali ditulis dan ratusan buku sastra terbit pasca-tsunami. Seni khas Aceh pun berkali-kali dipertunjukkan kembali dalam berbagai iven kesenian. Continue reading “Geliat Seni Aceh Pasca-Tsunami”

Tak Mudah hanya Bermodalkan Idealisme

Jurnal “CAK” Terbit Kembali
Nuryana Asmaudi SA
http://www.balipost.co.id/

SETELAH sekitar enam tahun menghilang dari peredaran dan tiada kabar, jurnal CAK (Catatan Kebudayaan) kini hadir lagi. Peluncuran edisi terbaru (Nomor 6 Th. IV Januari – April 2002) diadakan di Kantor Redaksi CAK, di Peguyangan Kangin Denpasar, baru-baru lalu. Berbagai kalangan hadir pada kesempatan itu. Undangan yang hadir boleh dibilang sudah cukup mewakili beragam kalangan mulai dari sastra, seni rupa, musik, seni pertunjukan, budayawan, intelektual, akademisi, kalangan kampus, hingga kalangan jurnalis. Continue reading “Tak Mudah hanya Bermodalkan Idealisme”

Talaud, Porodisa di Ujung Laut

Raudal Tanjung Banua
tempointeraktif.com

Di bawah hujan lebat, tepat pukul 17.00 waktu setempat, KM Ratu Maria tujuan Melonguane yang saya tumpangi perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan Manado. Hari itu Rabu, awal Mei 2010. Pasar ikan, gereja, mercusuar, tiang jembatan, pertokoan, dan rumah-rumah mulai pudar di kejauhan, tertutup tirai hujan. Dari ruang nakhoda, seorang pendeta memimpin doa bagi keselamatan pelayaran. Continue reading “Talaud, Porodisa di Ujung Laut”

”Orang Berbudaya Baca Sastra”

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/

”Orang Berbudaya Baca Sastra.” Demikian motto Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI), sebuah wadah yang menampung kegiatan sastra di luar sekolah. Kelahiran sanggar yang di bidani oleh sastrawan Taufik Ismail ini didorong atas keprihatinan tentang pengajaran sastra di sekolah yang kian terpuruk. Kecintaan membaca sastra di kalangan siswa sangat rendah. Kalaupun ada minat baca, siswa mendapat kesulitan karena tidak tersedianya buku-buku sastra di sekolah. Continue reading “”Orang Berbudaya Baca Sastra””

Bahasa ยป