Jalan Menuju Perbudakan

Max Regus *
http://www.lampungpost.com/

Hanya dalam hitungan hari, sederet peristiwa memilukan kembali menampar kebersamaan kita. Negeri ini bergelimang kekerasan, kematian, dan air mata. Kejahatan terus melumuri kehidupan kita. Dengan banyak versi. Dalam beragam latar dan maksud. Karena teramat sering kekerasan mengunjungi kita, sampai kita lupa mengingat semuanya. Indonesia seolah memasuki episode kegelapan. Persis menjelang satu tahun periode kedua kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan semboyan politik ?Lanjutkan!? Continue reading “Jalan Menuju Perbudakan”

SEPOTONG ANTROPOLOGI DAGING PANGGANG

Dian Basuki
http://www.ruangbaca.com/

Begawan antropologi Claude L?vi-Strauss meninggal menjelang usia 101 tahun. Ia dikenang sebagai bapak antropologi struktural.

Bagaikan juru kamera yang percaya diri, Claude L?vi-Strauss senang memilih sudut penglihatan yang tak lazim. Ketika sejawatnya melihat budaya dengan sudut pandang yang biasa, L?vi-Strauss memandang perkembangan budaya melalui lensa makanan. Cara memandang itu ia tuangkan dalam esainya yang terbit pada pertengahan 1960-an, “Le Triangle Culinaire” (“The Culinary Triangle”). Continue reading “SEPOTONG ANTROPOLOGI DAGING PANGGANG”

Pedanda Ngurah: Yoga Gunung

Putra-putri Tradisi Utama Bali (2)
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

DESA Blayu, Tabanan, sepanjang pertengahan abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 menjadi salah satu simpul denyut aliran sungai susastra-agama klasik Bali. Denyut itu ditandai dengan keberadaan Ida Pedanda Ngurah sebagai mata air sastra-agama di Geria Gede Blayu. Dari kawi-wiku, pendeta sekaligus sastrawan, inilah kelak mengalir tidak hanya sejumlah teks-teks koleksi dan salinan penting dalam khazanah susastra-agama di Bali, tetapi juga lahir karya-karya baru yang memperkaya isi lumbung peradaban batin-rohani Bali. Continue reading “Pedanda Ngurah: Yoga Gunung”

Bangkitnya Abdullah Harahap dari ‘Kubur’

Kurniawan
majalah.tempointeraktif.com

KEDAI buku beratap seng itu terletak di bagian dalam pasar buku Pasar Senen, Jakarta. Tanpa papan nama, seperti kebanyakan kedai buku di sana.

Sebuah meja besar memenuhi kedai itu. Di atasnya bertumpuk buku teka-teki silang yang biasa dijajakan pengasong di terminal. Beberapa novel remaja murahan tertata di salah satu rak. Di dinding lain ada beberapa komik tipis Petruk-Gareng dan novel horor Mira Karmila yang sudah berdebu. Continue reading “Bangkitnya Abdullah Harahap dari ‘Kubur’”

Bahasa ยป