MEGAWATI KECELIK GUS DUR

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Ketika semalam merevisi ini datanglah kabar, Gus Dur meninggal dunia, semoga Allah mencintainya, amin.

Tak mungkin negarawan tangguh pengamatannya mistis seperti Gus Dur tak miliki strategi memaslahatkan bangsa, hanya kita sering kecelik (terkecoh) ulah vokalnya tampak terlalu dini, sebab belum menangkap siasatnya penuh nilai. Continue reading “MEGAWATI KECELIK GUS DUR”

Gus Dur dimakamkan di Jombang

bbc.co.uk

Mantan Presiden Indonesia Abdurahman Wahid hari ini akan dimakamkan di Jombang, Jawa Timur. Presiden Susilo Bambang Yudoyono menurut rencana akan memimpin upacara resmi kenegaraan.

Kemarin di istana negara, Presiden Susilo Bambang Yudoyono meminta masyarakat Indonesia untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari mulai hari ini untuk menghormati Gus Dur. Continue reading “Gus Dur dimakamkan di Jombang”

Pesantren Masih Minim Karya Tulis

Ghufron
http://www.republika.co.id/

Perkembangan sastra dan budaya baca tulis di lembaga pendidikan pesantren terkesan jalan di tempat, bahkan bisa dikatakan mandek. Akibatnya, hingga saat ini tidak banyak karya satra atau karya tulis yang bisa dihasilkan dari kalangan pondok pesantren.

“Pesantren saat ini memamng sepi karya tulis. Hal itu terjadi karena kurang adanya keteladanan. Kiainya saja malas mengarang kitab, bagaimana santrinya bisa nulis,” ujar budayawan Ahmad Thohari Continue reading “Pesantren Masih Minim Karya Tulis”

Pendidikan Sastra Klasik di Jepang

Albertus Prasetyo Heru Nugroho
citizennews.suaramerdeka.com

ONKOUCHISHIN, demikian peribahasa dalam bahasa Jepang yang artinya “hangatkan yang lama, peroleh yang baru”. Sejak kedatangan saya di negeri matahari ini tahun 2000 dalam rangka tugas belajar S-1, banyak hal yang saya alami, saya rasakan berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelum saya datang ke Jepang. Continue reading “Pendidikan Sastra Klasik di Jepang”

Putu Wijaya di Mata Para Seniman

Stevani Elisabeth
sinarharapan.co.id

Putu Wijaya meraih penghargaaan Akademi Jakarta di tahun 2009 ini. Penghargaan itu akan diberikan kepada Putu Wijaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang biasa dikenal dengan Putu Wijaya (65) telah mengabdikan hidupnya dalam dunia seni dan budaya. Pria yang lahir pada 11 April 1944 ini telah menghasilkan sedikitnya 30 novel, 40 naskah drama, dan ribuan cerpen. Bahkan beberapa naskah drama dia sutradarai sendiri untuk dipanggungkan di dalam dan di luar negeri. Continue reading “Putu Wijaya di Mata Para Seniman”

Bahasa ยป