Pernikahan Cahaya

S.W. Teofani

Cahaya kembali pada cahaya. Cahaya berkumpul bersama cahaya. Hanya cahaya yang tahu cahaya.

Aku pahat huruf-huruf itu di diding kastil. Saat lelah menerobos pualam. Mencari celah menembus kegelapan. Bilah huruf itu menjelma kekuatan. Aku terhenti mengenang. Muasal diri bukan cahaya. Tapi ada cahaya pada diri. Kepada cahaya seharusnya diri berpulang. Dengan cahaya diri berjalan. Selain cahaya, pada diri adalah kegelapan-kegelapan yang harus dimusnahkan. Selain cahaya, pada diri adalah bagian-bagian yang harus dihancurkan. Maka diri menjadi pertarungan kegelapan dan benderang. Continue reading “Pernikahan Cahaya”

Remo

Sabrank Suparno *

Winarsih berubah menjadi laki-laki, benar-benar berubah. Ia tampan, gagah, tanggap, cekatan, mengesankan. Busananya pun mentereng, dengan pernik warna-warni elegan, ditambah udeng kepala yang terselip lipatan berujung lancip ke atas, betapa ia seorang ksatria wibawa di medan laga yang kesaktiannya melindungi rakyat jelata. Bahkan lebih cocok jika namanya diganti Joko Galing, Joko Sambang, atau Joko Sembung, sebab gelagat, paras, naluri, kekuatannya tak selembek wanita lagi. Continue reading “Remo”

Cinta Siti Nurbaya

Y. Thendra BP *

HATTA, tersebutlah Datuk Maringgih pengusaha kaya dari Jakarta pulang kampung. Doi pulang dari rantau bukan tersebab rindu ingin melihat rumah gadangnya yang sudah hampir roboh dan pandam pakuburan kaumnya yang sudah bersemak. Tapi doi ingin bertemu dan melamar Siti Nurbaya.

Sejak melihat Siti Nurbaya jadi peran utama di Sinetron Cinta Siti, Datuk Maringgih jatuh hati. Mabuk kepayang. Sampai-sampai Datuk Maringgih acap kali mabuk beneran di tempat dugem hingga jackpot dan meracau, “Siti, ai lop yu, beib…” Continue reading “Cinta Siti Nurbaya”

PENG…NGE…CUUT.!!!

M.D. Atmaja

Aku pernah melalui satu perjalanan bersama dengan seorang kawan yang begitu aku percayai menggenggam kehidupanku untuk berada di tangannya. Tapi dasar aku, mungkin terlalu bodoh, teramat gobloknya karena telah menyerahkan kehidupan merdeka yang pernah aku perjuangkan sekuat tenaga pada dirinya. Memang aku yang tolol, tidak perlu menyalahkan dirinya. Ia pun, memang sudah sewajarnya untuk mendapatkan kemerdekaannya sendiri. Meskipun, itu dengan penghianatan. Dengan pembunuhan. Ah, terserah saja dia. Continue reading “PENG…NGE…CUUT.!!!”

Cengkih Aroma Rindu

Muhammad Amin
Berita Pagi, 10 April 2011

Lalu kami pun berjalan mengikuti undakan bukit. Dan tampak di hadapan kami bentangan yang luas, sebuah teluk tersambung samudra dan selat Sunda. Juga pelabuhan-pelabuhan yang terbengkalai. Di sanalah kapal-kapal bangsa eropa pernah merapat. Di sebuah kurun waktu, yang tahunnya tak pernah kami catat dalam kepala. Pelabuhan yang diempas waktu hingga berkarat. Continue reading “Cengkih Aroma Rindu”

Bahasa »