Kelapa Lima

Berto Tukan
sinarharapan.co.id

Membaui kembali aroma keringat kanak-kanak, kucoba kini. Mungkin ada sisa kenangan yang lupa diuapkan matahari dan dihanyutkan hujan. Sia-sia! Berapa sudah musim kering dan hujan yang tak kulalui di sini? Di mana teman-teman sepermainanku dulu? Di mana si Pedo dengan janji ceritera Kelapa Lima-nya? Continue reading “Kelapa Lima”

Lelaki yang Menjadi Minyak

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Dolok Mardongan. Seribu pejantan tak akan pernah mampu mengawini dia sampai kapan pun. Karena dia juga pejantan.

Dolok Mardongan, lelaki yang bisa mengisap puting seorang perempuan, bisa menyetubuhinya, atau menciptakan kata-kata yang memabukkan agar tubuh pualam para perempuan memperlihatkan kemilau rahasia di balik lipatan dada dan selangkangan. Continue reading “Lelaki yang Menjadi Minyak”

Pangeran Facebook

(Cerita dalam Potongan Status)
Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Seperti pada kebanyakan kerajaan asli Indonesia yang lain pada masa pra-kolonial, sejarah Banjarmasin ditandai oleh pertentangan internal yang kronis, terutama di antara anggota-anggota keluarga raja. Kebencian, iri hati, ketamakan, dan lapar kekuasaan yang mendorong terbentuknya persekongkolan-persekongkolan politik merupakan sebab-sebab terjadinya friksi, pembunuhan manusia, atau pembunuhan kepala negara yang dilakukan oleh para pengikut raja-raja sendiri, yang sebagain besar berlangsung tanpa sanksi hukuman. Continue reading “Pangeran Facebook”

Negeri Cahaya

Dayu Nilam Abrar
http://www.sinarharapan.co.id/

Ahraniya, Negeri Cahaya ?Jika saja angin cukup kuat membawaku, aku ingin terbang. Terbang. Hilang. Dan melupakan semuanya. Berharap ini hanya mimpi. Harapan memang selalu klise.?

Aku pastilah seorang wanita yang beruntung. Beruntung karena berhasil lolos dari episode pertama pembantaian di kampung halamanku sendiri, Ahraniya, Negeri Cahaya. Tuhan menciptakan Negeri Cahaya sejak awalnya mungkin sedang merasa gusar. DiciptakanNya tanah yang gersang di sana. Hanya ada perbukitan, gua, dan pohon-pohon rendah. Continue reading “Negeri Cahaya”

Siapa Bersedia Mengubur Kami?

Teguh Winarsho AS
sinarharapan.co.id

RUMAH kami telah menjadi puing dan tumpukan sampah. Kami tak tahu dari mana sampah sebanyak itu datang ke rumah kami. Lihatlah, batu, kayu, besi, bongkah dinding bertumpuk seperti bukit gersang. Serupa gunung sehabis meletus. Tapi aku dan Cut Putri tetap memutuskan tinggal di rumah. Kami hanya berdua sebab Abah dan Umi belum pulang menjenguk kami. Sejak hari pertama, ketika gelombang tsunami datang. Padahal biasanya mereka tak pernah pergi lama. Paling ke rumah Paman Hasan di Sidikalang atau mengunjungi Tengku Sadin di Lhoksukon yang sudah dua tahun sakit. Menginap semalam dua malam lalu pulang. Tapi kini, sudah hampir dua minggu mereka belum pulang. Continue reading “Siapa Bersedia Mengubur Kami?”

Bahasa ยป