Di Ambang Jendela

Ulfatin Ch
http://www.suarakarya-online.com/

Setiap pagi, lelaki itu selalu muncul diambang jendela. Matanya yang bulat dan tajam dibalik kaca mata hitam berputar ke sana kemari bagai lampu mercusuar mengintai setiap kapal melintas pelabuhan.

Semua yang ada di depannya seperti tak terlewatkan dari tatapannya. Tidak juga dengan diriku. Ketika kubuka pintu di pagi hari dan memulai tanganku memainkan sapu lidi membersihkan halaman rumah, aku selalu melihat lelaki itu juga sudah diambang jendela menatapku bagai serigala menatap musang. Aku tak banyak mengetahui tentang lelaki itu, setidaknya untuk sementara waktu. Continue reading “Di Ambang Jendela”

Nyanyian yang Sumbang

Aang Fatihul Islam
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Pagi itu mentari mengintip dari ufuk timur bersama desiran angin yang berenang dalam hawa yang menguapkan percikan kecil api neraka. Aku melangkahkan kakiku menuju pintu kereta tua peninggalan zaman Belandah. Di atas kursih yang tidak empuk itu aku melihat segerombolan orang bergaya lux, umur setengah baya lagi bersenda gurau tentang karirnya yang lagi melambung dan ngerumpi tentang penghasilannya yang melejit sukses karena jadi juragan dengan karyawan yang banyak. Continue reading “Nyanyian yang Sumbang”

Karena Aku Perempuan

I Komang Widana Putra
http://www.balipost.co.id/

Lukman Ali. Begitu sipir-sipir penjara menyebutnya. Mengepalai lembaga permasyarakatan ini hampir dua puluh tahun. Wajahnya sangat persegi dihiasai bola mata gelap dan terpancar teduh. Lain seperti bawahannya, sipir-sipir penjara, yang punya tatapan mata siap menguliti.

LUKMAN Ali, bapak keduaku setelah setahun lamanya kebebasanku dibelenggu di penjara ini. Setiap malam dia mengontrol Blok D, penjara yang kutempati bersama sepuluh perempuan pembunuh mengikuti dakwaan hakim lainnya. Continue reading “Karena Aku Perempuan”

Setelah Lebaran

Beni Setia *
suarakarya-online.com

SEPULUH tahun yang lalu Bariah masih mencoba mudik tiap mau lebaran, ikut berdesakan dan reboh bawa oleh-oleh. Tapi saat sampai di rumah dan tidak kebagian kamar, karena kamar depan dipakai Kang Barjan dan anak-istri, kamar tengah dipakai Kang Barjun dan anak-istri, dan di dapur dipasang amben untuk Ayah yang sakit-sakitan, maka Bariah memutuskan tak akan pulang berlebaran, seperti pada hari lebaran 10 September yang lalu. Continue reading “Setelah Lebaran”

Randu Rekah

Kurnia Effendi
suarakarya-online.com

“AKU akan melamarmu di musim randu rekah. Saat itu langit di atas kampung kita dikelilingi kapuk yang melayang-layang seperti burung putih yang larut oleh hembusan angin,” kata Sanusi pada suatu senja di tepi sungai. Sepasang kakinya terjulur ke tebing yang memiliki undakan batu. Sesekali air memercik dingin. Melepaskan serpih lumpur yang mengering di atas matakaki. Continue reading “Randu Rekah”

Bahasa ยป