Mencatat Rindu

M.D. Atmaja

Sore hari, langit meneteskan bulir-bulir air. Rapat tanpa celah dan heneng ketika jatuh di hitam tanah yang masih basah. Rintik, pagar dingin diusap angin lewat yang membawa senyap. Bergulir atas kebekuan yang tidak biasa. Bercampur aduk di depan serambi malam. Memboyong anak manusia tertelungkup di dalam harapan. Continue reading “Mencatat Rindu”

Sang pengembara

Aang Fatihul Islam
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Awan sore itu berwarna hitam pekat dengan sedikit warna putih menghiasinya, sebagai pertanda akan datangnya hujan. Aku berjalan sempoyongan mencari tempat untuk berteduh. Aku melangkahkan kakiku berjalan menuju sebuah gudang tua di dekat rel kereta api. Kilat dan petir menyambar bagaikan cemeti raksasa yang mengaung di atas awan-awan. Ribuan anak panah akan segera diluncurkan ke bumai yang menjelma menjadi luncuran air hujan. Continue reading “Sang pengembara”

M A A F

Putu Wijaya
http://www.jawapos.com/

Pada hari raya Idul Fitri muncul tamu yang tak dikenal di rumahku. Aku pura-pura saja akrab, lalu menerimanya dengan ramah tamah. Terjadi percakapan. Mula-mula sangat seret, sebab aku sangat berhati-hati jangan sampai kedokku terbuka. Di samping itu, diam-diam aku berusaha keras untuk membongkar seluruh kenangan. Setiap bongkah aku bolak-balik, mencoba menyibak, siapa kira-kira dia, tetapi sia-sia. Continue reading “M A A F”

Setengah Restu

Ida Ahdiah*
http://www.jawapos.com/

Pandan menghentikan mobil di tepi persawahan yang sambung-menyambung hingga menyentuh kaki bukit yang berjajar memagari kampung-kampung kecil. Dari kejauhan tampak asap mengepul dari bakaran jerami kering sisa panen. Aromanya mengapung di udara, mengingatkan Pandan pada aroma merang bakar yang dulu digunakan Ibu untuk membersihkan rambutnya yang panjang, merapat melewati pinggul. Semasa kecil dulu, Pandan paling suka menciumi rambut Ibu sehabis keramas, membelitkannya di leher, membuatnya geli sendiri. Kemudian Ibu akan meminta ia membantu menyisir rambut dari belakang. Continue reading “Setengah Restu”

Harum Telaga Warna

S Prasetyo Utomo
http://suaramerdeka.com/

TAK diketahuinya, telah berapa lama Sukmo kabur dari kota tempat tinggalnya. Lelaki muda itu merasa sudah waktunya meninggalkan telaga warna dan goa persembunyiannya. Alangkah lega bila terbebas dari kesunyian hutan pinus, lembab gua, semerbak bunga-bunga liar, dan suara burung hantu di tengah malam berkabut. Ia sempat bimbang, bila kembali ke kota, masih setiakah istri dan anaknya di rumah mereka? Continue reading “Harum Telaga Warna”

Bahasa ยป