SEPASANG TINTA EMAS

Aang Fatihul Islam

Pagi itu langit begitu cerah dihiasi indahnya awan putih yang berjalan begitu lembut bersama terangnya sinar matahari yang baru muncul dari biliknya. Beragam aktifitas mulai bertebaran di kota pahlawan dalam percikan-percikan semangat sesegar embun pagi dan sepanas sang matahari. Tiba-tiba melintas sesosok pemuda dengan sorot matanya yang begitu tajam dihiasi dengan alis tebal yang tertata rapi di atas matanya. Pemuda itu postur tubuhnya kekar dengan kulit sawo matang, rambut panjang sebahu dengan kaos oblong hitam dan celana jeans biru tua compang-camping terkesan seperti tampang preman berjalan menelusuri kota Surabaya. Continue reading “SEPASANG TINTA EMAS”

Selina Gita

Hamsad Rangkuti
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

“SETIAP abang berada di tengah hutan, abang selalu ingat dialog awal percakapan Rafi dengan anaknya dalam sebuah film. Abang dipercayakan memegang peran sebagai Rafi dalam film ?Promise Land? karya Holga Martina Straubinger dan Lisa Hodsoll. Film semi dokumenter itu disutradarai Andreas Pascal. Misalnya, dalam perjalanan kita menyusuri rimba lebat ini, dialog itu datang pada abang dan abang bisa mengulang omongan itu, tapi abang lupa nama peran anak lawan ngomong abang dalam film itu.” Continue reading “Selina Gita”

Baik, Tunggu Baru

M.D. Atmaja

Perubahan besar terjadi setelah lengsernya Lurah Arta dari jabatan superpanjang. Ribuan orang-orang pandai berbondong ketika itu, memenuhi pusat Kelurahan Luruh Indon yang porak-poranda karenakan uang yang tidak bersahabat. Rakyat kelaparan. Pejabat kelurahan banyak menimbun bahan makanan.

Kelurahan bertemu pagebluk, banyak orang yang tidak kebagian bagi-bagi uang merencanakan sesuatu. Pemuda-pemudi disatukan. Seperti tahun-tahun lalu, dalam masa perjuangan. Mereka berpakaian Kuning, Merah, Hijau, Abu-Abu sampai pada Kelabu. Memadati jalan-jalan utama. Memenuhi lapangan Luruh Indon sambil berteriak: ?Gantung Lurah Arta! Lengserkan Lurah Arta!? sampai membabi, meruntuhkan segala yang ada. Continue reading “Baik, Tunggu Baru”

Kulkul

Putu Satria Kusuma
http://www.balipost.co.id/

Kulkul keenam itu belum juga mampu dinaikkan ke Bale Kulkul. Puluhan warga, secara bergilir telah mencoba. Tapi gelondongan kayu yang dadanya dilubangi seperti lubang kuburan, serta kepalanya dipahati wajah pemimpin yang ramah, jujur dan berwibawa itu, sangat berat. Selain itu, Bale Kulkul — bangunan untuk menggantung kulkul — itu cukup tinggi. Continue reading “Kulkul”

Bahasa ยป