Kulkul

Putu Satria Kusuma
http://www.balipost.co.id/

Kulkul keenam itu belum juga mampu dinaikkan ke Bale Kulkul. Puluhan warga, secara bergilir telah mencoba. Tapi gelondongan kayu yang dadanya dilubangi seperti lubang kuburan, serta kepalanya dipahati wajah pemimpin yang ramah, jujur dan berwibawa itu, sangat berat. Selain itu, Bale Kulkul — bangunan untuk menggantung kulkul — itu cukup tinggi.

UNTUK mencapai puncak Bale Kulkul itu, orang hanya bisa melewati anak-anak tangga. Meski begitu mereka sudah berhasil mengusung, menapaki anak-anak tangga. Namun baru beberapa langkah, kulkul itu terpaksa diturunkan lagi. Alasannya, kulkul itu memberat, bertambah berat sehingga mereka tak mampu mengusung lama-lama. Jika dipaksakan, kulkul akan jatuh. Beberapa kali demikian. Selalu gagal. Akhirnya mereka menyerah, duduk-duduk memandanginya, kehilangan akal. Mereka tak habis pikir, bagaimana bisa kulkul itu beratnya bertambah besar. Padahal ketika selesai dibuat dan diturunkan dari truk, kulkul itu dapat diusung tanpa hambatan.

Sejak berdiri, desa itu sudah memiliki enam kulkul. Kulkul pertama umurnya lama, karena keropos diganti dengan kukul kedua. Pada kulkul kedua, suara dan wibawanya sangat menakutkan. Setiap kali kulkul itu dipukul, pada malam harinya penduduk pasti melihat hantu-hantu menangis dan hantu-hantu gila bergentayangan. Keanehan lainnya, timbulnya hama tikus yang tak hanya menyerbu padi-padi di sawah tapi juga menyerang penduduk. Mula-mula mereka tak tahu penyebab semua itu adalah kulkul kedua, baru setelah Jro Mangku Semar dapat pawisik, sumber bencana itu terkuak. Kulkul itupun diturunkan, apalagi saat itu kayunya sudah mengeropos.

Lalu kulkul ketiga dan keempat, tak lama tergantung karena kayunya tiba-tiba mengeropos, sedangkan suaranya terkesan sumbang dan ngawur sehingga warga hampir saja saling bunuh karena salah menafsirkan bunyi kulkul itu itu. Jro Mangku Semar memperkirakan, pada saat pembuatan kulkul itu si pembuat tak menghaturkan upacara sebagaimana mestinya. Kemudian pada kulkul kelima, suaranya keluar tak menentu, kadang terdengar, kadang tidak, padahal kulkul kelima itu sudah dipukul keras-keras. Akibatnya, fungsinya sebagai kulkul — suara kayu yang dipercaya sejak ratusan tahun menandai kegiatan adat, agama dan desa — jadi terhambat.

Karena itu, ketika ada bahaya orang ngamuk, kebakaran, gotong royong, paum, kematian dan sebagainya, sebagian besar warga tidak tahu. Lalu mereka protes dengan membuat kulkul-kulkul di setiap rumahnya dan membunyikan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Anak-anak dan para pemuda pun ikut-ikutan membuat kulkul. Mereka memukul kulkulnya seenaknya seperti memainkan musik. Seorang ketua sekeha tuak, memukul kulkulnya jika waktunya minum tuak. Ketua sepak bola memukul kulkulnya untuk mengumpulkan kelompoknya. Ketua ranting sebuah partai juga memukul kulkul untuk mengumpulkan kelompoknya.

Begitulah, desa itu pun menjadi ramai oleh suara-suara kulkul yang membingungkan. Setiap hari, setiap jam, ada suara kulkul. Dalam waktu bersamaan terdengar suara-suara kulkul. Tetapi sebenarnya suara-suara yang berhamburan dari beberapa kulkul milik pribadi maupun kelompok, sudah mulai ada pada waktu kulkul pertama, kedua, ketiga dan keempat. Cuma belum tampak menonjol karena kulkul pertama sampai keempat yang digantung di Bale Kulkul bersuara lantang meredam dan membisukan suara-suara kulkul milik warga. Maka, agar warga tak terpecah-pecah, dalam suatu paum, kulkul kelima diturunkan, sedangkan kulkul-kulkul kecil itu mulai ditertibkan bersamaan dengan datangnya kulkul keenam. Tapi masalahnya, kulkul keenam itu sangat berat.

Sebagaimana warga desa lainnya, Jro Mangku Semar juga tak mengerti dengan keanehan yang ditunjukkan kulkul keenam. Ia menduga ada kekuatan gaib menunggangi kulkul itu hingga menjadi lebih berat. Dugaannya beralasan ketika tiba-tiba saja dari mereka yang tadinya ikhlas mengangkat kulkul, tiba-tiba bertengkar dan berkelahi tanpa alasan berarti. Kejadian yang sulit dilerai oleh para Pecalang dan Polisi itu sempat menghebat ketika mereka membawa-bawa perkelahiannya pada dendam lama akibat dari perbedaan partai politik yang didukungnya.

Ini masalah peka dan berhahaya. Sebab, pada Pemilu lalu perbedaan partai politik telah membuat rumah salah seorang pendukung partai tertentu dihujani satu truk batu oleh massa dari partai lawannya. Memang, di desa itu perbedaan partai politik belum menjadi tradisi. Saat Golkar berjaya, pendukung PDI teraniaya. Kemudian ketika PDI dapat angin, giliran pendukung Golkar yang digencet! Sementara desa dengan segala awig-awig-nya belum mengatur hubungan antar-warga yang mendukung partai politik berbeda. Karena itu, setiap kali Pemilu tiba, ada saja masalah yang menakutkan. Warga desa yang gemar gotong-royong, rajin Tri Sandya, terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok pendukung partai politik.

Kerukunan warga, kekerabatan berdasar satu kawitan atau satu dadya, tercabik-cabik dan terhisap menjadi anggota-anggota partai politik dan terjebak dalam perseteruan politik seperti yang diberitakan di koran dan televisi. Desa yang selama ini dilindungi dan diatur adat, kehilangan wajah dan hatinya. Orang-orang yang berjumpa tak lagi menyebut “Om Swastiastu”, tapi mengucapkan salam partai. Jika yang disapa dengan salam partai tak menyambut dengan salam partai yang sama, ia bisa celaka, dianggap musuh. Nyawa pun bisa melayang, terteror atau tiba-tiba rumah dihujani batu satu truk.

***

Ketika matahari bersembunyi ke laut dan menyisakan jejak-jejak merah di lengkung langit, ratusan burung datang menyerbu pohon-pohon. Lantunan Tri Sandya dari pengeras suara pura menyabet-nyabet lubang kuping, sedang di trotoar terlihat orang-orang duduk metuakan sambil megenjekan.

Jro Mangku Semar baru menyadari hanya dirinya yang masih duduk tak meninggalkan kulkul itu. Dengan batin menggumpal seperti saat melakukan meditasi, ia membiarkan pikirannya mengembara mengejar rahasia keanehan kulkul itu. Airmatanya merembes, ia teringat pada kulkul kelima. Entah kenapa batinnya bertautan erat dengan sosok kulkul kelima itu. Dari getaran suaranya yang halus sampai tatahan fisiknya yang lembut menyiratkan kekuatan yang meneduhkan jiwa. Lagi pula dalam pengamatannya, kulkul kelima itu tak separah yang dituduhkan.

Sesungguhnya, suara kulkul kelima itu keluarnya bukan tak menentu. Kulkul kelima bisa bersuara sebagaimana layaknya sebuah kulkul. Ia curiga ada upaya-upaya dari pihak tertentu yang memang menginginkan kulkul kelima itu cepat diturunkan lalu diganti dengan kulkul yang baru. Tetapi Mangku Semar sulit menemukan bukti yang mendukung kecurigaannya itu. Ia hanya merasakan semua itu ulah Gede Gambar, politikus desa yang kini jadi anggota DPR. Dan karena dalam paum semua pengurus desa menyetujui penggantian kulkul itu, dia tak bisa menolak. Ia juga tak mampu memutuskan kulkul yang mana dan bagaimana yang boleh digantung di Bale Kulkul itu, sebab Mangku Semar percaya Bale Kulkul tua itu memiliki kebenaran yang bergerak menempel dengan waktu.

Mangku Semar tahu kulkul yang tak berhak digantung di Bale Kulkul itu. Jika dipaksakan, akan jatuh. Seperti halnya kursi kekuasaan yang hanya diperuntukkan bagi yang berhak mendudukinya, jika orang lain yang tak berhak memaksakan diri menduduki kursi kekuasaan, pastilah kursi kekuasaan akan mendepaknya. Jro Mangku Semar percaya itu, suatu kepercayaan yang didapatnya lewat mata batinnya.

Kini, mengapa kulkul keenam belum juga mampu diusung dan digantung di puncak Bale Kulkul itu? Inilah yang tak dimengerti. Apakah ada yang tak beres pada kulkul keenam itu? Diterjang pertanyaan itu, lelaki tua itu tiba-tiba bangkit, darahnya mendidih. ”Ini penipuan,” desisnya geram memukul kulkul itu berkali-kali hingga tangannya lecet berdarah.

Keesokan harinya. Mulut-mulut berbau tuak dan arak mengeluarkan gumam. Kaki-kaki kokoh menancap tanah. Tangan-tangan kekar berotot tebal kuat mencengkeram. Beberapa orang melemparkan tali pengait ke balok penggantung. Tiang dan aneka jenis tangga disorongkan ke atas. Dipimpin oleh Gede Gambar, anak-anak muda itu dengan penuh gembira, bertelanjang dada siap mengangkat dan mengusung kulkul keenam itu ke puncak Bale Kulkul dan penggantungnya seperti yang direncanakan. Kemudian ketika aba-aba dilontarkan dari mulut Gede Gambar, mereka bersorak, Kulkul keenam itu diangkat. Tetapi sebelum mereka sempat mengusung, Mangku Semar menghentikannya.

”Ada apa ini, Ku?” sergap Gede Gambar yang merasa dilecehkan oleh tindakan penghentian itu.
”Kalian jangan menggantung kulkul itu!” jawab Mangku Semar dengan sorot mata tajam, memanah.
Semua kaget. Gede Gambar merasa terbakar hangus, belum sempat ia bicara, lelaki tua di hadapannya itu sudah mendahului, ”Kulkul itu kulkul imitasi! Kulkul itu tidak dikerjakan oleh seorang suci ahli kulkul seperti yang diputuskan dalam paum lalu. Karena itu, kulkul itu tak kan pernah berhasil kalian letakkan di ketinggian itu, di puncak Bale Kulkul. Hanya kulkul yang pantas yang bisa menyatu dengan Bale Kulkul itu. Jika tidak, akan selalu terjadi penolakan-penolakan gaib seperti yang kemarin kita alami bersama, dimana kulkul itu makin memberat sehingga kita tak mampu mengusungnya!” papar Mangku Semar berapi-api dengan wajah kesurupan. ”Jika kalian memaksakan juga, menggantung kulkul kotor itu, Ida Betara akan marah, membencanai desa kita!” tambahnya.

Mendengar itu, orang-orang makin kaget. Kulkul itu diletakkan, mereka ketakutan. Seorang gadis remaja tiba-tiba memekik, mengejang, kerauhan, lalu berlari ke kulkul itu, meludahinya berkali-kali, akhirnya jatuh pingsan. Suasana menjadi gaduh sampai akhirnya Gede Gambar bangkit bicara.

”Diammm! Jangan kalian percaya dengan omongannya!” pinta Gede Gambar. ”Kulkul adalah kulkul!” lanjutnya lalu meminta semua orang kembali mengangkat kulkul itu seperti semula. Karena pengaruhnya amat kuat, anak-anak muda itu enggan menolak. Setelah meminum tuak dan arak, mereka bangkit. ”Kita butuh kulkul! Banyak kegiatan sudah terhambat karena belum ada kulkul. Jangan alihkan kegagalan mengangkat kulkul dengan kehendak Ida Betara! Ini namanya pelecehan terhadap Betara, pada sungsungan dan keyakinan kita! Tidak ada Betara yang menolak kehadiran kulkul di Bale Kulkul. Lagipula, jika pembuatan kulkul belum bersih, bukankah ada banten upacara pembersihnya?” katanya geram. Maka, kulkul itu pun diangkat. Jro Mangku Semar disingkirkan, seperti yang sudah-sudah. Suaranya yang mungkin saja mengandung kebenaran, selalu kalah oleh suara-suara orang yang mampu merebut simpati orang banyak. Tapi Mangku Semar tak kecewa. Dalam hatinya ia berharap, dialah yang keliru dan kulkul keenam dapat digantung di Bale Kulkul. Dan memang iapun ikut gembira ketika Kulkul itu berhasil digantung di Bale Kulkul. Semua orang bersorak, tepuk tangan. Keberhasilan ini membuat Gede Gambar memastikan diri akan kembali mendapat dukungan politik di desanya hingga ia bisa terpilih lagi jadi anggota DPR pada Pemilu mendatang. Tetapi semua kegembiraan itu terhisap ketika Kulkul besar itu tiba-tiba jatuh, menimpa Gede Gambar.

Jro Mangku Semar menyesal, tapi siapa yang peduli. Malah keluarga Gede Gambar menuduh dialah yang telah menyebabkan kematian Gede Gambar. Tuduhnya, dengan kekuatan batinnya Jro Mangku Semar telah memutuskan tali pengikat kulkul itu sehingga kulkul itu jatuh menimpa Gede Gambar yang kebetulan berada persis di bawah kulkul itu ketika sedang mengucapkan pidato kesuksesannya memimpin menggantung kulkul itu.

Banyuning-Singaraja 2002

Catatan:
Kulkul : kentongan kayu.
Paum : rapat
Awig-awig : peraturan tertulis di desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *