Byar-Pet

M.D. Atmaja

Kumandang Isya selesai melantun di dalam udara malam. Dalam hituangan beberapa menit, sunah tarawih juga telah selesai. Kangmas Gothak bersama dengan adiknya, Dhimas Gathuk beriringan pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kegelapan mengurung keduanya. Lampu-lampu penerang jalan mati. Angin kencang berhembus. Menggetarkan daun-daun hitam. Menegakkan bulu roma keduanya. Di dalam udara, mereka seperti mendengarjeritan tangis dari arah rumpun bambu. Udara menjadi semakin dingin. Merasuk ke dalam rongga dada. Continue reading “Byar-Pet”

Kisah Batu Menangis

A.S. Laksana *
jawapos.co.id

Sekali waktu kau perlu mendengarkan rintihan benda-benda atau apa saja di sekitarmu yang tak pernah kau beri perhatian. Mungkin itu sebutir kerikil, mungkin seekor kadal, atau sebatang alang-alang, atau apa saja.

Sekarang akan kusampaikan kepadamu sebongkah batu yang menangis. Ia mungkin menyampaikan cerita agar kau lebih berhati-hati. Maksudku, kau pasti akan merasa serba tak enak jika suatu saat burung penguinmu ditonton orang di mana-mana dan dijadikan bahan ketawaan. Continue reading “Kisah Batu Menangis”

Ibu, Kematian, dan Aku

Maria D. Andriana
http://www.sinarharapan.co.id/

Ia terbaring di atas kasur yang mengeras dan lembap oleh keringatnya. Matanya hitam dan cekung. Hanya mata hitam itu yang membuat wajahnya tampak hidup, sementara seluruh tubuhnya kurus dengan kulit kering yang seakan hampir terkelupas. Ia tampak renta dan tak berdaya. Ibuku, perempuan yang seharusnya kusayangi dan kuratapi penderitaannya.

Melihat tubuhnya yang lunglai, bibir hitam dan keriput yang tidak lagi mampu menerjemahkan isi hati dalam bentuk kalimat, seharusnya membuatku prihatin atau menangis. Continue reading “Ibu, Kematian, dan Aku”

Mimpi Pak Tumpul

M.D. Atmaja

Sehabis subuh berlalu, Pak Tumpul bangun tidur dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya. Nafasnya pun terenggah-engah. Keringat sebesar kedelai menggantung di mukanya. Bintik-bintik seperti jerawat yang juga membasahi keningnya yang botak. Pak Tumpul mengelus kucir belakang yang terasa gatal. Dia masih duduk di tempat tidurnya ketika mendapati istrinya telah selesai mandi. Continue reading “Mimpi Pak Tumpul”

Bukan Puncak Huangshan

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

TERSEBAB kau memilih jalan yang lebih mendaki dari Puncak Huangshan, aku merasa malu berani menyuntingkan tunjung biru pada mahkotamu. Seharusnya kuberada pada ketinggian sanjung manjadi takdirmu. Kau terima dengan rela pelepah hati masaiku. Tapi, di malam yang telah dihalalkan kubuka cindai jinggamu, aku tak mampu menatap kejora jiwa itu. Continue reading “Bukan Puncak Huangshan”

Bahasa ยป