Rokok

Salman Rusydie Anwar

Siang itu, aku terkapar kepanasan di beranda rumah. Kurangnya pepohonan di sekitar halaman membuat suasana rumahku tetap terasa gerah meski saat itu aku bertelanjang dada. Belum lagi posisi rumah yang berada tepat di pinggir jalan besar yang setiap hari tak pernah sepi dari bisingnya suara kendaraan. Rasanya begitu muak bertahan lama tinggal di rumah itu. Tapi untuk pindah ke daerah lain yang lebih sejuk juga tak mungkin. Harga tanah sekarang ini mahal sekali dan hal itu jelas tak akan terbeli oleh penghasilanku yang cuma sebagai penjual asongan rokok, yang berkeliling di dalam pasar dan terminal angkot. Continue reading “Rokok”

Perjanjian Keramat

Sabrank Suparno *

Kata ibu, usia nenek sekitar 102 tahun. Tubuh ringkih itu sisa masa kolonial. Lima belas tahun silam, Nenek masih berjalan tegak nyambangi sawah. Aku ingat. Waktu kecilku sering diajak ke pekarangan di pojok desa. Aku bermain lumpur, dan tubuh wanita itu gigih mencangkul, menanam pohon kelapa. Namanya orang tua, ada saja tabiatnya. Apa sempat nenek memetik nanti? Sedang usianya di ambang senja. Mungkin nenek maniru nabi Muhammad, yang bersemboyan?aku tetap akan menanam korma, meski esok hari kiamat tiba?. Continue reading “Perjanjian Keramat”

Wulan dan Suaminya

Humam S. Chudori
http://www.lampungpost.com/

SEJAK Wulan tinggal di rumah sebelah, sebetulnya, saya tak suka perempuan itu. Betapa tidak, apabila bertandang ke rumah, ia selalu mengatakan jika dirinya tidak ikut bekerja mereka pasti tidak mungkin membeli rumah. Menurut penuturannya, suaminya tak pernah mau ketika ia mengusulkan agar membeli rumah. Alasannya penghasilan Suharjono tak cukup untuk membayar angsuran. Continue reading “Wulan dan Suaminya”

Pak Lurah

M.D. Atmaja

Salah satu, yang telah mengakukalau dirinya adalah seorang anak emas, tangan kanan Pak Lurah, di KeluruhanLuruh Indon. Dia seorang yang berasal dari sudut Barat Keluruhan Luruh Indon. Entahapa dan bagaimana, seringkali dia disebut dengan Pak Tumpul. Entah kelucuan dankekoyolan dalam berpikir, sampai banyak anggota masyarakat mengatakan kalau PakTumpul ini memang benar-benar selalu tumpul. Namun, setumpul apa pun si PakTumpul, orang-orang di Kelurahan Barat memilihnya menjadi wakil mereka di PerwakilanKetoprak Kelurahan. Continue reading “Pak Lurah”

Objek Wisata Kematian

M.D. Atmaja

Hari ini, Lurah Desa Luruh Indon mengumpulkan para bawahannya. Pak Lurah, katanya sedang memikirkan rencana besar bagi seluruh warganya. Rencana yang akan menjadi monumental atas pernghargaan pahlawan di peringatan tujuh-belasan nanti. Untuk memperingati hari jadi Kelurahan Luruh Indon itu, pihak pemerintah sudah menyediakan dana 180 milyar. Menurut beberapa pengamat pemerintahan, dana itu terlalu besar untuk membuat monumental peringatan kebangsaan-desa. Sebab, menurut pengamat yang sering duduk-duduk di warung kopi itu, dana sebesar itu terlalu besar kalau hanya untuk membuat monumen. Apalagi, menurut mereka, dana yang 180 milyar itu akan digunakan untuk pemugaran makam seorang mantan Lurah di kelurahan Luruh Indon. Continue reading “Objek Wisata Kematian”

Bahasa ยป