Matinya Sang Penulis

Anggi Nugraha *
Media Indonesia, 26 Nov 2017

KISAH ini bermula di penghujung musim dingin. Saat bunga-bunga violet mulai kembali bermekaran di kota Tavuliaprovinsi Presaro, Italia. Di satu hari yang cerah di dermaga Venesia, Armanno Arrigo kehilangan cintanya.

”Berjanjilah untuk kembali!” teriaknya pada sang kekasih, tak lama setelah perempuannya itu menginjakkan kakinya di sebuah kapal yang hendak berlayar menuju Cina. Continue reading “Matinya Sang Penulis”

Kami Antar Barang sampai Kampung Terujung

Raudal Tanjung Banua *
Jawa Pos, 27 Agu 2017

ZEN menyampirkan handuk kecil di leher, dan sambil bersiul ia turun ke air. Takjub, ia terpaku sebentar, memandang arus memutih seolah baru menemukan sungai susu yang disebut dalam kitab suci. Tapi ketika membuka pakaian, ia sadar bukan orang pertama di tempat itu: ia lihat bungkus sabun dan sampo berserakan di celah batu. Dan, saat ia mulai berendam, sesuatu nyangkut di kakinya, ia angkat: o, bungkus mi instan hanyut terseret arus! Continue reading “Kami Antar Barang sampai Kampung Terujung”

Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada Si Tuan Resep

Mardi Luhung *
Koran Tempo

Halo Kawan, apa kabarmu? Aku sih baik-baik saja. Semoga kau juga begitu. Berapa tahun kita tak jumpa. Barangkali sebelas atau tiga belas tahun. Tak pasti. Yang jelas, sejak perpisahan itu, kita seperti mencari jalan sendiri-sendiri. Kau ke utara. Aku ke selatan. Kau ingin mendalami ilmu masak-memasak. Aku menekuni ilmu ramal-meramal. Dan kabarnya, kau kini telah berhasil jadi juru masak yang top. Sekaliber master ya? Hmm, betapa hebatnya dirimu. Ingin sekali aku mencicipi masakanmu itu. Yang kabarnya juga, penuh aroma rempah dan rasa yang menggigit. Continue reading “Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada Si Tuan Resep”

Perawan dan Tiga Serigala

Anindita S. Thayf
Koran Tempo

DAN kini hanya tersisa satu orang perempuan di muka bumi. Satu yang tinggal di dalam bunker perlindungan berpintu platinum lapis lima dan dijaga tiga ekor serigala. Sebenarnya, lebih pantas dia disebut gadis karena usianya masih belia: satu gerhana lagi tujuh belas tahun. Ayahnya, yang kini entah berada di mana—dia lebih suka berpikir orang tua itu masih hidup—berjanji hanya akan pergi sebentar dan bakal kembali sebelum usianya tepat tujuh belas. “Untuk mencari hadiah ulang tahunmu. Yang terbaik, tentu saja,” kata ayahnya pada suatu malam, dan begitu pagi tiba lelaki itu sudah pergi. Continue reading “Perawan dan Tiga Serigala”