Perawan dan Tiga Serigala

Anindita S. Thayf
Koran Tempo

DAN kini hanya tersisa satu orang perempuan di muka bumi. Satu yang tinggal di dalam bunker perlindungan berpintu platinum lapis lima dan dijaga tiga ekor serigala. Sebenarnya, lebih pantas dia disebut gadis karena usianya masih belia: satu gerhana lagi tujuh belas tahun. Ayahnya, yang kini entah berada di mana—dia lebih suka berpikir orang tua itu masih hidup—berjanji hanya akan pergi sebentar dan bakal kembali sebelum usianya tepat tujuh belas. “Untuk mencari hadiah ulang tahunmu. Yang terbaik, tentu saja,” kata ayahnya pada suatu malam, dan begitu pagi tiba lelaki itu sudah pergi. Baca selengkapnya “Perawan dan Tiga Serigala”

TUNGGU!

Djenar Maesa Ayu
cerpenkompas.wordpress.com

Waktu menunjuk pukul tujuh. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.

Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan. Baca selengkapnya “TUNGGU!”

Tangan-Tangan Buntung

Budi Darma
cerpenkompas.wordpress.com

Tidak mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin.

Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri mendesak, agar Nirdawat segera disyahkan sebagai presiden baru. Karena Nirdawat tidak bersedia, maka akhirnya, pada suatu hari yang cerah, ketika suhu udara sejuk dan langit kebetulan sedang biru tanpa ditutupi oleh awan, ribuan rakyat mengelilingi rumah Nirdawat, dan berteriak-teriak dengan nada memohon, agar untuk kepentingan bangsa dan negara, Nirdawat bersedia menjadi presiden. Baca selengkapnya “Tangan-Tangan Buntung”

Ini Anak Aku, Bukan Anak Kau

Hang Kafrawi
Riau Pos, 29 Juli 2007

Cu Man selalu memegang prisip bahwa anak merupakan loyang atau wadah segala tingkah-laku orang tua. Anak seperti mutiara yang belum diketahui oleh orang banyak: ia memancarkan kilauan suci kepolosan, kejujuran, yang bisa berubah menjadi cahaya suram di masa akan datang: tergantung tingkah-laku atau etika yang dicurahkan orang tua kepadanya. Baca selengkapnya “Ini Anak Aku, Bukan Anak Kau”

KERETA SENJA

Nurasiam Khalil
Radar Jombang 30 Okt 2016

Seruni adalah seorang gadis desa yang berumur 15 tahun dia adalah seorang gadis yang sederhana yang memiliki perawakan kecil, ramping, kulit hitam manis dengan rambut sepanjang body yang biasanya diikat dua. Baca selengkapnya “KERETA SENJA”