Jangan Panggil Aku Haji

DTA Piliang
http://www.suarakarya-online.com/

Keinginan melengkapi diri dengan gelar bergengsi segera terwujud. Saya termasuk diantara 200 ribu lebih orang Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji. Beberapa bulan lagi menyandang gelar haji, melengkapi gelar kesarjanaan.
“Inilah saya. Apa sih yang tak dapat diraih. Apa ang tak dapat dilakukan?,” saya berguman, puas. Continue reading “Jangan Panggil Aku Haji”

Satu Puisi

Hendry Ch
http://www.suarakarya-online.com/

Bangun Dulu kukira akan banyak lelaki yang menulis puisi untuk aku. Ternyata sampai aku berusia 50 tahun, hanya kamu yang pernah melakukannya. Aku masih menyimpannya sampai sekarang.

Kalau saja email bisa bersuara, Tio, pasti terbuai oleh merdu kata-kata yang dirangkai dalam kalimat itu. Apalagi bila di benaknya terrekam suasana kampus Universitas Indonesia di Rawamangun tahun 1980-an, ketika mereka berdua masih berkuliah di sana. Continue reading “Satu Puisi”

Elang Pengabar

Saut Poltak Tambunan
suarakarya-online.com

TIBA-TIBA elang itu muncul setelah berbulan-bulan menghilang. Menjelang siang ia tampak melayang tinggi dan berputar mengitari bukit pekuburan. Lengking suaranya ngilu hingga ke kampung. Elang pengabar atau lali parboa, dipercaya menebar jou-jou na holom atau panggilan kematian kepada ruh sesiapa yang hendak dijemputnya. Continue reading “Elang Pengabar”

Perempuan Politik

Syarif Hidayatullah
http://www.sinarharapan.co.id/

Inilah kesedihanku, saat meja makan begitu lengang dan kosong. Seperti sebuah piring tanpa lauk dan nasi, seperti hatiku pula yang kini mulai ditumbuhi rumput-rumput sunyi dan gelisah yang semakin lama semakin meninggi.
Aku tak pernah melarang istriku untuk terjun dalam partai P untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di kota D. Benar-benar tak begitu masalah bagiku, selagi itu bermuara pada hal positif, dan baik bagi dirinya, aku bahkan mendukungnya, meski sebetulnya setengah hati saja. Continue reading “Perempuan Politik”

Selamat Pagi, Pak Gubernur!

Wahyu Dramastuti
http://www.sinarharapan.co.id/

SELAMAT pagi, Pak Gubernur! Mudah-mudahan pagi ini Anda sedang membaca cerita pendek saya sambil minum teh hangat di tengah kebun rindang dan rumput yang menghijau. Ini penting, supaya hati ini senantiasa hangat tapi pikiran tetap dingin. Ah.? maaf, Pak Gubernur, saya hanya ingin menyampaikan isi hati secara tulus.
Cerita ini tentang penjual ketoprak langganan saya, Kojak namanya. Cukup panggil Kojak, karena kepalanya lonjong tapi rambut plontos, hidungnya seperti hidung betet. Persis seperti ?Kojak? Telly Savalas yang terkenal di era 1970-an, saat saya dan teman-teman berebut kursi untuk menonton televisi di rumah tetangga. Continue reading “Selamat Pagi, Pak Gubernur!”

Bahasa ยป