Coretan Kang Dol

Ahmad Munib

Kang DulPaqih masih duduk terpaku pd sebuah dipan tua, yang tampak reot termakan rayap. jari telunjuknya masih menjempit erat sebatang rokok, yah merk mlendjo kesukaanya. disampingnya secangkir kopi kental bikinan mbok sutrani, yang tinggal ampasnya dg setia menemaninya. kepulan asap ringan pun terus keluar dari mulut…nya yang keliatan menghitam. ya, Kang DulPaqih masih terpaku dg ujaran-ujaran kang Irul saat “kongkow” bersama Ki Wahono di warung mbok sutrani td pagi.
Ia masih terkesan dg dongengnya itu, begini…… Continue reading “Coretan Kang Dol”

Saya Hanyalah Seekor Anjing

Rama Dira J.
http://www.lampungpost.com/

SAYA hanyalah seekor anjing dalam arti yang sebenar-benarnya: binatang berekor dan berkaki empat. Jangan buru-buru dulu membayangkan saya sebagai anjing yang bersih terawat, sebab saya hanyalah anjing jalanan, anjing buduk yang berlumur busuk, anjing yang tak punya tuan.

Karena sudah menjadi anjing jalanan, tentu saya tak punya rumah dalam arti yang sebenar-benarnya pula. Saya harus membiasakan diri hidup di alam terbuka : bergelut dengan asap dan debu, bersetubuh dengan panas dan bercengkerama dengan dingin. Continue reading “Saya Hanyalah Seekor Anjing”

Setelah 100 Hari

DTA Piliang
http://www.suarakarya-online.com/

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ekonomi secara nasional membaik. Lapangan kerja terbuka lebar. Kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi. Kondisi ekonomi secara nasional jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.”

Apa yang dikatakan Rosa dalam diskusi kali ini mengagetkan saya. Pendapatnya sangat bertolak belakang dibanding ketika kami baru kenal. Dulu dia begitu kritis, kerap mengkritik pemerintah, selalu mengklaim memperjuangkan nasib rakyat. Continue reading “Setelah 100 Hari”

Paman Darajat

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

Paman Darajat, adik bungsu ibu, suka melihat peta Indonesia. Kalau ia mudik usai Lebaran dan bermalam di rumah kami dengan istrinya, pasti dia buka-buka atlas yang ada di meja belajarku. Jika tak ia jumpai, akan dia tanya, “Eh, mana petamu?” Aku pun buru-buru mencari atlas di sela buku lalu kuserahkan padanya. Setelah dua-dua kali begitu, aku dapat ide. Selain yang ada di meja, aku bingkai peta Indonesia dan kugantung di dinding. Nah, saat paman datang lagi peta-peta itu dipandangnya lama-lama sambil tersenyum dan manggut-manggut bak guru ilmu bumiku di sekolah dasar. Padahal, jangankan guru, SD pun tak tamat pamanku itu. Continue reading “Paman Darajat”

Bahasa ยป