Ped

Dhe A. Sujana
http://www.lampungpost.com/

USAI mengantarkan pepaya sebanyak satu truk ke pasar, Mat Sodik bertemu dengan Mat Rifah. Ajakan Mat Rifah untuk singgah sebentar di warung tak ditampik oleh Mat Sodik pada sore itu.

“Aku benar-benar minta tolong,” ucapan Mat Rifah itu kian membuat hati Mat Sodik tak tega. Bagaimana mungkin ia tak akan membantu teman sepermainan yang ia kenal mulai umur lima tahun. Mereka berpisah karena Mat Rifah memutuskan untuk merantau, menimba ilmu di tanah seberang. Continue reading “Ped”

Rendra

Putu Wijaya

“Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an, kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu.

“Banyak orang tersinggung dan kaget. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. Kebudayaan Jawa yang tinggi, berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur, Prambananan, buku Nagara Kertagama, Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu, bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?” Continue reading “Rendra”

Aku Bayar Yang Dulu Pernah Aku Makan

Miftahrahman
http://oase.kompas.com/

Namaku adalah laki-laki yang menggendong gitar sebagai busur yang selalu merunduk di atas awan dan teman-teman memanggil aku Kabul. Usia? kira-kira 25 tahun.

Ini kali pertama aku menginjakan kaki di kota impian, Jakarta. Di sinilah, ya, aku tegaskan lagi disinilah, di samping penjual rokok dan kopi dan aneka macam kue yang letaknya agak jauh dari loket kereta, menjadi pijakan pertamaku untuk mencapai tangga kesuksesan menjadi seorang pemusik terkenal seluruh dunia. Continue reading “Aku Bayar Yang Dulu Pernah Aku Makan”

Gaun yang Kusimpan

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

INI gaun terindah yang kumiliki. Kutisik dengan peniti hati, kusulam dengan benang jiwa. Setiap rendanya adalah tembang hatiku saat membayangkan malam yang agung bersamamu. Setiap rajutannya adalah senandung doa tentang masa yang akan kita jaga.

Kekasih, kau adalah lelaki pertama yang kupercaya menghantarkanku ke pesta. Padamu kupercayakan sebentuk hati yang kelak harus kau jaga. Continue reading “Gaun yang Kusimpan”

Terompet Jam Gadang

Abdullah Khusairi*
http://www.jawapos.com/

RINDU pada kota ini harus dituntaskan hingga tahun baru tiba. Telah menebal rinduku tersusun. Satu tahun memang tak lama, waktu begitu cepat melipat kenangan.

Jingga mulai jatuh satu-satu. Malam beringsut. Ini malam tahun baru. Terompet dijual di kaki lima. Sedari tadi telah menyalak di mana-mana. Seperti tiada jeda untuk menghela napas. Anak-anak, orang dewasa, meniupnya tanpa peduli apa pun. Pesta menuju tahun baru telah dimulai. Continue reading “Terompet Jam Gadang”

Bahasa »