Merah Hujan Senja

La Ode Gusman Nasiru
kendaripos.co.id

Siang ini hujan kembali mencuci kulit bumi tanah Wolio. Deru jarumnya lentik mencucuk remah-remah tanah yang pecah menganga menunggu air mengaliri labirin pada tiap lekuk. Di cucur atap, kuhayati tiap tumpah air mata langit tempias melubangi tanah dan menciptakan genangan. Sesekali, di pekat mendung itu terpecah konfigurasi petir sambar-menyambar membunga merobek langit. Dan guruh seolah hendak meruntuhkan pekat gulali awan di punggung bumi. Continue reading “Merah Hujan Senja”

Seperti Matahari…

Nita Gracia Dars Hats
kendaripos.co.id

Seperti biasa, sore ini aku duduk-duduk santai di teras rumahku, sambil mendengarkan lagu dari radio kecilku ditemani secangkir teh hangat. Ya, inilah yang sering kulakukan di hari-hari tuaku. Aku tersenyum tatkala melihat beberapa anak kecil dengan riang bermain di halaman rumahku. Wajah-wajah polos itu terlihat sangat bahagia bermain bersama, walau hanya dengan mainan sederhana seperti kelereng. Perlahan tanganku yang mulai keriput meraih cangkir teh di meja, lalu menyodorkannya ke bibirku. Aku meneguk teh itu dengan penuh nikmat dan damai. Kemudian, mataku terpejam menghayati bait-bait lagu populer masa kini dari radio kecilku yang mulai ketinggalan zaman, sambil sesekali bersenandung mengikuti irama lagu. Continue reading “Seperti Matahari…”

Simfoni Jingga

Nini Maryana R. Sari Dewi
kendaripos.co.id

Aku tak ingin disalahkan atas segala peristiwa yang menimpaku ini. Ya Tuhan, apa aku tengah sekarat? Di mana sebenarnya aku tengah berpijak kini? Surgakah? Nerakakah? Ataukah mungkin bukan keduanya? Ya Tuhan, betapa tersiksanya rasa ini. Ya Tuhan, apakah sekarang Engkau tengah tersenyum melihat deritaku? Ataukah Engkau tengah mencaci maki karena segala kebodohanku di masa lalu? Ya Tuhan, aku yakin Engkau tengah mengawasiku. Saat ini, hanya Engkau yang kuandalkan untuk menolongku. Continue reading “Simfoni Jingga”

Pertemuan di Garis Pembatas

F. Moses
http://www.lampungpost.com/

Ia dan Aku, Suatu Ketika

AKU ingin kau tahu, sebab ini kali pertama aku mengetahuinya. Pertama ketika pernah tersergap oleh pesonanya. Tak apa. Meski demikian, toh, aku tak beringkar dalam pikir karena gelagatnya yang ingin selalu mengubah apa yang diinginkannya.

Sebab, sesekali pula selalu terpikir hingga terasa olehku: betapa kepesonaannya itu masih membekas kemudian selalu menempel menjadi ingatan. Terlebih karena merdu suaranya pada tiap kali dirinya ingin mengubah apa yang diinginkannya untuk dijadikan segala sesuatunya berubah. Apakah itu? Continue reading “Pertemuan di Garis Pembatas”

Buah Api

Syahreza Faisal
http://www.lampungpost.com/

MALAM itu, entah angin apa yang membuat dingin menjalar kengerian lagi. Rumahku terasa begitu sepi. Sebelum akhirnya aku lihat ibu keluar dari kamar. Rupanya bapak baru pulang, ia menggedor pintu begitu keras. Tubuh bapak begitu melangkahkan kakinya masuk meruapkan bau keringat. Disusul alkohol membubung ke segala penjuru ruang. Juga masuk ke kamarku. Aku lihat mengintip dari sebilah pintu, kubuka sedikit perlahan. Mata bapak merah. Wajahnya legam kusam. Perut buncit dan kedua tangan kasar, mendorong tubuh ibu. Hingga mundur beberapa langkah. Ibu masih mengenakan mukena pada saat itu, beres ngaos. Tapi ibu malah diam. Pasrah. Bapak menggelengkan kepalanya, pusing karena mabuk berat. Kalah judi dan pasti, ditipu teman-temannya. Continue reading “Buah Api”

Bahasa ยป