Koper Merah

Jenny Ang
http://www.jawapos.com/

”Ma, tunggu.”

Matahari meninggi di atas awan. Menebar panas dan menuai gerah. Langit kelabu bukan menjanjikan hujan melainkan tersaput debu polusi. Sebuah koper kosong berwarna merah melenggang gontai mengikuti langkahku di atas trotoar yang seolah tak berujung. Roda-roda mungilnya bergemeretak meriah menggerus conblok yang terpasang tak rata. Continue reading “Koper Merah”

Bulan Separuh Bayang

Dahlia Rasyad
http://www.lampungpost.com/

SEMENJAK kepergian ayah, ibu selalu menghabiskan malam di kursi goyang sambil memandang pesona bulan dan kesejukan taman. Saat-saat di pertengahan kalender ia sudah duduk di sana sambil membaca novel tua yang romantis. Novel itu, selalu ia ulang-ulangi ke sekian kalinya. Apalagi kalimat-kalimat pembuka di bab-bab yang bukan saja puitis, tetapi mampu sejenak membawanya ke realitas fiksi itu. Bab yang dibuka dengan kalimat seperti ini: Continue reading “Bulan Separuh Bayang”

Surat Kepada Luqman 2

Kavellania Nona Pamela

Aku ingin bertanya pada awal surat keduaku ini padamu. Apa kabarmu hari ini Luqman? Maksudku apa kabarnya setelah kau membaca suratku kemarin? Ternyata kau masih saja membisu dan aku pun juga membisu. Kita sama-sama membisu bukan, Luqman? Padahal kerinduan telah dingin menyelimuti diriku sebesar minus derajat sekian. Dingin sekali Luqman, hingga aku membeku dan tak lagi menemukan mantel hangat pada kerinduan itu. Sampai kapan kau akan membiarkanku membeku seperti ini, menyiksaku dengan sayatan rindu pada lembar kisah yang telah memudar dulu. Continue reading “Surat Kepada Luqman 2”

Isteriku yang terbang

Lily Yulianti Farid
http://jurnalnasional.com/

Kata Ayumi, adalah biasa laki-laki Jepang memukuli kepala isteri dan anaknya. Tapi rasanya sulit mendapatkan bayangan bagaimana adegan itu terjadi pada perempuan itu. Ia memang mungil. Tapi tidakkah segala wawasan dan pengetahuan serta harga diri bisa menuntunnya mengambil keputusan meninggalkan lakil-aki brengsek yang mudah menamparnya? Continue reading “Isteriku yang terbang”

ETER

Ucu Agustin
jawapos.com

Tak ada kau di kursi itu, Eter. Gelombang nyanyian dari salon di sudut bar mengubahmu dari ingatan keras kepala menjadi genangan yang mencair di hatiku, kau tahu. Malam jadi beku meski di sini bar boy yang sama, dengan ceria menanyaiku seperti saat dia menawari kita minuman dengan setengah memaksa, waktu itu. San Miguel? Atau mau sari buah? Cranberrie-nya enak lho… Tequila? Sampanye juga kami punya… Namun karena Bloody Mary dan Martini kesukaanmu tak tertulis di daftar menu, maka cognac harum yang tak terlalu berat itu kita biarkan mengalir membanjiri lambung kita yang mungil. Dan, tentu saja, white wine! Continue reading “ETER”

Bahasa ยป