Kavellania Nona Pamela
Luqman, telah kuterima dan kubaca puisimu dengan untaian kata yang mampu menyihir hatiku menjadi rapuh, serapuh tongkat yang menyebabkan Sulaiman menghembuskan napas terakhirnya akibat termakan rayap. Untung saja aku bukan tongkat, aku masih mampu bertahan dalam kerapuhanku karena setiap bait pada puisi itu tersimpan secuil kehangatan selayak mantel pada musim dingin di Negeri Sakura. Tahukah Luqman, kehangatan itu telah membuaiku ke dalam harapan, padahal begitu takutnya aku memiliki harapan yang nantinya akan membuatku tersayat kembali karena kamu. Continue reading “Surat Kepada Luqman 1”
