Teguh Winarsho AS
kr.co.id
SEJAK ibu menjerat lehernya dengan tali jemuran di sepetak tanah kosong dekat kuburan beberapa hari silam, hingga kini masih kuingat bagaimana lidah ibu yang pucat mirip kain pel basah itu terjulur keluar, matanya melotot hingga kedua bola matanya seperti mau melesat dari liangnya, aku tersimpuh lemas di samping mayat ibu, menangis sesenggukan. Sementara ayah hanya terkekeh, mengepulkan asap tembakau dari mulutnya. Sesekali ia menendang pantatku jika aku menangis terlampau keras. “Jangan keras-keras! Perutku mau muntah!” Continue reading “Zombi Atawa Mayat Hidup”
