Janji untuk Kaci

Miranda
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

JEMPUTLAH aku di tikungan ketiga, Kaci. Pukul sebelas, malam Sabtu Pahing nanti. Pakailah kemeja hitam kesukaanku yang telah ternoda bekas bibirku. Bawa saputangan polosmu di saku, tapi jangan selipkan telepon selulermu. Malam itu saja, aku ingin memilikimu sendirian. Bersisir yang benar, sebab aku suka mengacaknya, nanti. Tak perlu khawatir, aku selalu membawa sirkam di dalam tasku. Kamu bisa merapikan rambutmu kapan saja. Continue reading “Janji untuk Kaci”

T H U Y U L

Sri Wintala Achmad*
http://www.suarakarya-online.com/

Kampung Ngudi Tentrem geger. Yeyen menyiram air panas ke seluruh tubuh suaminya yang masih mendengkur di kamar tidur. Berita tersebar, pelacur terminal itu mendakwa, sebagian uangnya di dalam almari telah dicuri suaminya buat mabuk. Sebagian lainnya diberikan pada Diana. Janda beranak dua di samping rumahnya yang selalu dikeloni sebelum Yeyen pulang dari terminal. Menjual kenikmatan pada setiap lelaki yang menyerupai anjing di musim birahi. Continue reading “T H U Y U L”

Bersampan ke Tepi Tanah Mimpi

Satmoko Budi Santoso
suaramerdeka.com

BAGAI si Bujang Tan Domang yang suatu hari singgah, terantuk di tanggul Sialang Kawan, Dusun Betung, Tanjung Sialang, dan Tanjung Perusa, aku berlayar. Limbung terbantun dari tepian Sungai Siak, menumpang sampan dayung bercadik.

“Lupakanlah si Raja Lalim, si Panjang Hidung,” Emakku merengek, menghela galah galau, melontar sepah kesal, sumpah seranah atas kampung halaman. Ah, berlayar, berlayarlah aku ke seberang, ke tepi tanah mimpi, atas nama basah angin, kelepak burung, dan mega-mega. Continue reading “Bersampan ke Tepi Tanah Mimpi”

Lindu

Zainal Arifin Thoha

SUDAH hampir sebulan ini, burung gagak berkaok-kaok mengitari daerah kami, terutama di malam hari. Konon, kata para sesepuh, bila burung gagak berkaok-kaok di malam hari, seperti itu, adalah pertanda akan ada kematian. Tetapi, fenomena burung gagak itu tak hanya terjadi di daerah kami saja, melainkan di daerah lain, menurut kawan saya, juga acap terdengar. Continue reading “Lindu”

Pulang dalam Hujan

Marhalim Zaini
Suara Merdeka, 6 Mar 2005

Kampung-kampung di sini tak pernah memiliki cerita yang lain. Kerentaan dan kehampaan, selain itu waktu yang berjalan sangat lambat. Kepulanganku, seperti juga kepulanganku yang lain, hanya kembali menyaksikan jalan berlubang, berdebu ketika kemarau, banjir dan bencah saat hujan. Ini Desember, hujan membuat tubuh kampung-kampung di sini menggigil. Continue reading “Pulang dalam Hujan”

Bahasa ยป