Batu Domino yang Beradu

Marhalim Zaini
Jawa Pos, 3 Juli 2005

Lebih baik jadi kuli di negeri sendiri.
Setelah segalanya seperti menyusut ke dalam gelap, dan menghadirkan bintik-bintik cahaya lampu, serupa ratusan bintang yang terapung di sepanjang pelabuhan, di sinilah surga mereka. Di mana lagi, selain kedai kopi tempat mereka kembali, tempat (seolah) mereka menemukan sebuah keluarga. Surga dapat dibangun di mana saja, dan dihuni oleh siapa saja, pikir mereka. Keluarga adalah surga. Keduanya ada saat kita membuatnya ada. Dan mereka selalu merasa menemukan keduanya. Continue reading “Batu Domino yang Beradu”

“Ibu, Aku Belum Siap Engkau Bereinkarnasi Lagi!”

Dian Hartati*

Akhirnya mobil itu meninggalkan lapangan parkir yang basah. Hujan sedari pagi membasahi jalan-jalan kota yang dipenuhi guguran daun. Di dalam mobil terlihat seorang perempuan menangis dengan hening. Tak ada yang ditatapnya selain jalanan yang sepi, tangannya sibuk di belakang kemudi. Sesekali dia mengusap air mata, tak ada yang abadi pikirnya. Tak ada yang abadi selain perubahan. Continue reading ““Ibu, Aku Belum Siap Engkau Bereinkarnasi Lagi!””

Jaring Batu

Marhalim Zaini
Cerpen CWI 2006, dalam Antologi Lok Tong

“Betul-betul makan sumpah jaring batu ini, Cuih!” Ludahnya bau pahit kesumat. Tiap hari, bahkan tiap saat. Tiap ia teringat kepala kekasihnya tergolek bagai sebongkah kelapa, teregok-egok dalam gelombang laut Selat Melaka, teregok-egok pula dalam pasang air matanya. Entah telah berapa gantang ludah untuk menyumpah-nyumpah yang tumpah dari mulutnya, di sepanjang beting, sepanjang tepian pantai abrasi, sepanjang hari-hari sesenyap mati. Continue reading “Jaring Batu”

Lembah Kunang-kunang

Dian Hartati*

1. Nyanyian Alam di Suatu Sore
Sebuah perjalanan. Keberangkatan yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Kepergian selalu dimulai petang hari. Tepat ketika matahari memutuskan diri untuk pulang setelah seharian menyinari bumi purba. Tak banyak perbekalan, tas punggung berwarna senja hanya berisikan sebotol air dan satu buah apel segar. Tak ada lagi yang dibawa selain satu senter kecil, korek api, sebuah peta lusuh, dan sebuah syal berwarna putih. Continue reading “Lembah Kunang-kunang”

Bahasa »