Perempuan yang Pandai Menyimpan Api

Marhalim Zaini
Jawa Pos, 22 Feb 2004

Tahu apa kau tentang kehilangan
Sehingga membuatmu berbeda dari orang lain?*

Seolah seisi kedai menyimpan umpatan itu. Malam – yang diduga dapat menyembunyikan percik api sindir kebencian dari mata orang-orang – justru kini menjelma ribuan teluh yang mendera sunyi. Sunyi malam, yang memekat di dada Soi. Dada perempuan yang sipit matanya, membuncit perutnya, yang hanya memandangi genang bias cahaya lampu di wajah sungai hitam setiap malam. Continue reading “Perempuan yang Pandai Menyimpan Api”

ANAK-ANAK LUMPUR

Haris del Hakim

Kami hampir seperti anak-anak lain yang tinggal di kawasan pedesaan. Lumpur bagi kami adalah sahabat paling menyenangkan.

Pada saat kami melihat kubangan air di tanah kering, bekas orang-orang memandikan sapi atau sepeda, kami berebutan untuk mendahului sampai di tempat itu. Yang pertama kali sampai akan mengangkangkan kaki sebagai bukti bahwa dialah penguasa kubangan berlumpur itu dan yang lain akan berebut untuk menggantikan kedudukannya. Kami saling dorong. Jatuh secara bergantian. Teman yang curang tidak mau berdiri setelah jatuh. Dia duduk di kubangan dan melempar-lemparkan lumpur ke arah yang lain, sehingga tidak ada seorang pun yang berpakaian bersih lagi. Continue reading “ANAK-ANAK LUMPUR”

Malam Lebaran di Pelabuhan

Marhalim Zaini
Minggu Pagi, II Jan 2003

Di atas pelabuhan, waktu terasa berhenti.
Malam ini, setelah sekian ribu malam yang padam. Tok Bayan baru percaya pada Alan Lightman, sahabatnya dari Memphis, yang menulis dalam sebuah novelnya bahwa “Ada satu tempat di mana waktu berhenti, bandul jam hanya bergerak separuh ayunan. Anjing-anjing mengangkat moncong mereka dalam lolongan sunyi. Pejalan kaki membeku di jalanan berdebu.”* Dulu, ia hanya tersenyum membaca kalimat-kalimat provokatif itu. Continue reading “Malam Lebaran di Pelabuhan”

Kopi Senja di Negeri Siti

Marhalim Zaini
Suara Merdeka, 15 Feb 2004

Siak, sungaimu menyulapku. Perempuan itu, kaurendam di dada senjamu. Pekat hitam rambutnya, setiap kali kaubasahi, tumbuh ribuan bunga kenanga. Menyambangi hidung lelakiku. Segera, di taman imajinasiku, segala yang terindah merekah. Entah di mana tiba-tiba lenyapnya gubuk-gubuk yang runduk di sepanjang tepian sungai itu. Sampah-sampah yang terapung di bawahnya pun seolah menjelma bunga seroja yang digoyang ombak kecil dari sampan-sampan yang ditambatkan. Continue reading “Kopi Senja di Negeri Siti”

Bahasa »